Who's Next?

Who's Next?

  • WpView
    Reads 889
  • WpVote
    Votes 197
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 21, 2020
" Sraakk... Sraakk... Sraaakk.. Suara pisau yang menggores dinding gelap ruangan ini membuat tubuh Haris dingin sepenuhnya. Di tengah ketakutannya, ia melirik tubuh di dekatnya yang diam, dan basah oleh cairan gelap kemerahan beraroma amis. Haris tidak bisa kemana-mana lagi, keputusasaan melandanya dan ketika ia mendongak dari tempatnya, nampaklah sosok dengan benda berkilat pada salah satu tangannya. *** Berawal dari sosok misterius yang mengirimkan e-mail kasus pembunuhan berantai padanya, Haris nekat menyeret dirinya sendiri, bersama teman-temannya, memasuki dunia yang tidak pernah mereka inginkan. Setelah melakukan ritual permainan untuk membuktikan ucapannya, satu persatu kejadian tragis mulai menimpa mereka, menyeret nama Haris sebagai "masalah" dikehidupan teman-temannya. Haris yang tidak terima disudutkan pun menyelidiki dan mencari tahu tentang pengirim e-mail tersebut. Namun, ketika Haris menemukan fakta yang sebenarnya, ia baru menyadari kematian sudah lebih dulu mengikutinya!
All Rights Reserved
#392
dead
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENGUMPAT !
  • {𝐄𝐍𝐃}Catatan Teman yang Sudah Mati
  • THE SECRET OF RELYAN
  • Takdir Kalea [Revisi]
  • Senandung Kematian [Selesai]
  • Pecahan bayangan
  • Menjaga Monster
  • Lost In The Fog
  • SIRAUT SIRAH [REVISI]

Perempuan introvert ini mulai membuka diri, mulai bermain media sosial, lalu keanehan demi keanehan dalam dirinya mulai terjadi yang sekaligus menjadi penghubung antara masa lalu dan teman-temannya. "Aku berencana mengirimkan DVR ini bersama dengan seprei yang dipakai ketika malam pertama kami menikah. Barangkali terdengar konyol, tapi seprei ini ada noda bekas darah selaput perawanku, iya ini salah satu kenangan yang masih tersimpan rapih di kotak penyimpanan kamar tidur kami. Aku titipkan seprei ini kepadamu Eya. Jika nanti anak perempuanku sudah remaja tolong berikan kepadanya sehingga nanti dia bisa menjaga mahkota hanya untuk suaminya." Eya sering kali mengumpat dari rasa takut dan trauma yang sekaligus menjadi bentuk luapan dendam amarahnya. Segala hal mengenai kematian merangsek berubah menjadi obsesi. Kengerian-kengerian mulai mewujud dalam pikiran, seakan membabibutakan kesadaran, di antara nyata atau imaji hanya ada mati. Cattleya Kirana Dewi, adalah mimpi buruk bagi pikiran dan imajinya. Saat ajal mulai melingkari leher, mereka memohon kematian kepadanya, sedangkan kematian baginya hanyalah sebuah jembatan untuk menuju keabadian. Mengumpat di dalam kematian tidak lagi tabu bagi mereka yang menuju mati dalam umpatan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines