We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
IGAUAN LUKA

IGAUAN LUKA

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 2, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Sebuah pesan yang terpasung dalam kegilaan angan-angan tak ubahnya doa yang semakin lama mengendus luka dengan begitu dalamnya membuat raut wajah yang dulunya sumringah kini menggambarkan tangis yang teramat dalam. Ada ambisi yang lusuh sebelum datangnya perjuangan, ada sayatan yang tak sempat terbungkus ratapan, bahkan asa yang tak pernah diijinkan membuka jendela tak ubahnya nelayan yang terjebak dalam angin besar tengah samudera. Sampai saat dimana hati berteman, bercerai, bahkan menjadi budak nafsu sekalipun, aku tak dapat hilangkan kebodohan yang sampai saat ini masih sering aku ratapi (kepergian tanpa permisi). Sebab penolakan dari rasa yang belum sempat terproklamirkan menjadikan aku seolah aktor tanpa skenario sehingga pada akhirnya aku hanya bisa menjadi wayang penuh tawa yang menangis dibelakang layar.
All Rights Reserved
#5
igauan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Cerita Rein (SUDAH TERBIT)
  • Gamang
  • I Love You
  • " 𝑺𝒌𝒚-𝑹𝒂𝒊𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔 𝑨𝒏𝒅 "
  • Sepertiga Malam Tentangnya
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines