We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
I Offer it to Him

I Offer it to Him

  • WpView
    Reads 288
  • WpVote
    Votes 89
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 27, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Budayakan Follow sebelum baca :v Jangan jadi silent readers ya guys *** Hidup dengan nenek dan kakek mengajarkanku tentang arti kehidupan yang sebenarnya. mereka mengajarkanku banyak hal. hingga aku tahu untuk apa hidupku ini.. *** Mereka, tak pernah tahu siapa aku. Aku dalam sisi yang lain. Mereka selalu beranggapan bahwa aku adalah orang yang bahagia dengan cara sederhana. Hahh mereka tak tahu hal yang sebenarnya terjadi. Aku. Seorang nyawa yang terbuang, seorang nyawa yang tak pernah diinginkan. Bahkan.. orangtua yang aku banggakan, tak pernah menganggapku. *Ada disaat butuh. Hilang disaat dibutuhkan* ***
All Rights Reserved
#23
kesabaran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Syakila
  • Semua Belum Usai [END]
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • Cerita Tentang Kita
  • Sorry For This Rebels ✔
  • ALONE
  • When We Drown [TAMAT ✔]
  • 180 Days
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines