"Kadang, yang begitu ingin kita sampaikan, justru hanya berani dituliskan." Ayra sangat mengagumi Gian. Sudah lama, sudah dalam. Tapi ia memilih diam-mengukir sajak-sajak indah dari serpihan Surat Kecil yang tidak pernah tersampaikan pada tujuannya. Berharap suatu hari bisa menyapanya lebih dulu. Tapi nyalinya selalu kalah oleh waktu. Hingga sebuah ketidaksengajaan membawa mereka menjadi semakin dekat. Tentang semua kenangan suka dan duka menjadi sekretaris ekstrakulikuler musik. Di antara notasi lagu dan absen anggota, Ayra menyimpan banyak kenangan kecil tentang Gian. Tentang cara Gian memanggil namanya. Tentang tawanya di sela-sela kejenuhan. Tentang suara gitarnya yang selalu terdengar pertama kali saat ruang musik dibuka. Ayra tahu, perasaannya tak bisa selamanya disembunyikan. Maka dia menulis. Bukan lagi surat kecil, melainkan sebuah novel. Sebuah perasaan yang lama terpendam, kini diutarakan melalui rangkaian kata. Hingga hari perpisahan tiba, Ayra memberanikan diri menyerahkan buku itu ke tangan Gian. Satu buku. Satu cerita. Satu harapan... Bahwa cinta yang ditulis diam-diam, akhirnya menemukan jalannya untuk disampaikan.
More details