Ada Apa Dengan Fania?

Ada Apa Dengan Fania?

  • WpView
    Membaca 10,333
  • WpVote
    Vote 428
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Feb 18, 2020
"Cepat pakai bajumu, aku tunggu kamu diluar," tukas Aken, sembari berbalik badan dan keluar kamar. Perasaan yang sulit dijelaskan, ada apa dengan kekasihnya. Hingga dia seperti itu sekarang. Napas terasa berat, desir hangat tiba-tiba menjalar di dalam sana. Suara pintu membuatnya menoleh, kali ini Aken semakin tercengang. "Kamu kenapa memakai bajuku?" "Tidak boleh?" "Bukan begitu Fan, tapi ...." "Semua celanamu terlalu besar, lagipula baju ini sudah seperti daster buatku." Aken melirik ke bagian paha, yang terbuka sebagian dari lutut ke bawah. Kaki jenjangnya yang mulus terlihat begitu menggoda. "Sekarang cepat ganti bajumu, aku antar kamu pulang." Aken menarik tangan Fania, dan mengambil bajunya yang masih terletak di kamar mandi. "Cepat ganti bajumu sekarang," perintah Aken, sembari menyodorkan sesetel pakaian milik Fania. Perempuan itu melengos tak acuh, berjalan gontai ke arah ranjang. "Aku mau sekalian tidur disini," ucap Fania dengan senyum tipis saat tubuhnya telah tengkurap di atas kasur. Membuat kaos bola yang sedang dipakainya tersingkap, menampakan lebih tinggi daerah paha atasnya. Aken semakin tak kuasa menahan, pemandangan indah terpampang di depannya. Adrenalin mulai meninggi, semakin jelas terasa, ada yang ngilu di bagian sana. Dia menelan cairan saliva di mulutnya, kemudian mengerjapkan mata untuk menyadarkan diri. "Baiklah kalau kamu ingin beristirahat disini, aku bisa pergi. Nanti sore aku kembali," ucap Aken sembari melangkah ke arah pintu. "Berhenti!" Fania berlari, lalu memeluk Aken dari belakang. Dan lagi, untuk pertama kalinya perempuan itu melakukan hal diluar nalarnya. "Jangan pergi," lirihnya. Aken perlahan memutar tubuh, melepaskan diri dari pelukan sang pacar, "Fania, ada apa denganmu? Apa yang terjadi? Ini bukan kamu yang kukenal, aku tau kamu tidak seperti ini. Jangan biarkan aku kalah melawan birahi, atau kamu sedang mengetesku?"
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#150
gairah
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • ALVANSA [Completed]
  • SAH (Menikah Dengan Mantan)
  • MY OLD EMPEROR (END)
  • SELINGKUH
  • Mertuaku Yang Kesepian
  • Love It's You [COMPLETED]
  • MASIH SENIKMAT DULU (JATAH MANTAN PROJECT)

"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan