We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Bedroom (Revisi)

Bedroom (Revisi)

  • WpView
    Reads 1,189
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Mar 22, 2020
WpInfo
Fiction
Mystery
Mendengarkan penjelasan dari dokter membuatku semakin ingin menggali lebih dalam lagi. Apakah ibu ada kaitannya dengan kasus keluarga yang dr. Chris maksud. "Anin.. jika saya boleh tau. Apakah kamu sering mendengarkan bunyi gamelan?". Tanya dokter kepadaku. Tapi dari mana dia tau tentang bunyi dan suara gamelan itu. "Iya dokter, tapi mengapa dokter bisa tau?". Balasku dengan bertanya kembali padanya. Raut wajah dokter lalu berubah menjadi sangat serius dan menyuruhku untuk berbaring di atas kursi pasien yang biasa dia gunakan untuk menghipnotis pasien. ****** "Anin.. kamu sudah berada di nama kunci jawaban itu ada.. masuklah dan kamu akan tau kebenarannya". Ucap dr. Chris memberiku pengarahan. Tepat di depan kamar kosong itu aku berdiri. Aku yakin semua akan berlalu setelah aku menemukan jawaban atas apa yang menimpaku selama ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • PENGACARA HALAL KU
  • INTAN (Cerita Pendek - End)
  • DIARY DEPRESIKU
  • Good Girl or Naughty Girl (END) 🍁
  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)
  • The Best Part (Completed)
  • KEAJAIBAN IV
  • Bukan ZONK!

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines