RATAPAN ANAK TUNGGAL

RATAPAN ANAK TUNGGAL

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Ini kisah ku Kinanti Agnesia, sedari kecil aku tak pernah diberi kasih sayang penuh oleh ayahku. Bahkan ketika aku umur 11 bulan ketika aku jatuh sakit perut ku membesar ayahku atau bahkan keluarga ayah, tak pernah ada yang menengok ku di rumah sakit. Hanya ibuku lah yang berkorban atas kesembuhan putrinya itu, namun ketika beranjak remaja ntah apa yang ada di pikiran ibu waktu itu. Ibu dengan entengnya berkata kasar dan menyusuk hati, saudara? Jangan tanyakan itu karena sedari aku kecil tak pernah ada saudara yang peduli padaku.
All Rights Reserved
#52
kinanti
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • I Love My Own Father
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • When Love is Breaking
  • Terlalu rumit
  • Cerita Tentang Kita
  • CINTA UNTUK SENJA
  • A Brother And Sister's Suffering That Has a Happy (End)
  • ArKa (End)
  • Yang Terlupakan

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines