Jomblo Tawakal  [Slow Update]

Jomblo Tawakal [Slow Update]

  • WpView
    Reads 512
  • WpVote
    Votes 160
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 14, 2020
"Ku harap rembulan selalu menerangi gelapnya malam. Seperti kau yang menerangi malamku yang panjang penuh kesepian, berharap memilikimu namun itu hanya harapan belaka." -Zahra "Kau bagaikan senja yang penuh candu membuatku ingin selalu bertemu dan memilikimu." - Kak Haechan "Cinta memang tidak bisa dilihat, namun kau bisa merasakannya dan apakah kau merasakanya?." - Kak Jeno [9' Haechan] [715' Skz] [88'Zahra]
All Rights Reserved
#15
heachan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • 7 anak indigo
  • Never Turn Back
  • Sudut Pandang Hasbi | Haechan (Terbit)✔
  • Love In Trouble : Harsa | HAECHAN ✔️
  • NABASTALA (END)
  • Yo Dream | Nct Dream✔(Terbit)
  • Jeandra | Lee Jeno ✓
  • Between us
  • Perihal Rasa Sesal

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines