Anandira

Anandira

  • WpView
    Reads 62
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 31, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Percayalah semua akan baik-baik saja.- Azlan Faruq Akhtar --------------------------------------------------- Hidup itu pilihan, apa yang kau lakukan hari ini akan membentukmu di hari esok. Begitu seterusnya. So, berterimakasihlah kepada setiap pengalaman yang terjadi. Karena ia telah mengajarkan- Aqilla Anandira ___________________________________ Kala itu.. "Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan. Janji?" Matanya sendu menatap sang kakak. "Iya. Janji" Jawab Daffa dengan sungguh-sungguh menatap manik sang adik. Nyatanya janji hanyalah janji, tidak untuk realisasi, hanya omong kosong yang Anan rasakan. Semenjak beberapa kejadian yang Anan alami di kehidupan. Ia membenci untuk belajar menyayangi. Karena pada akhirnya hanya lukalah yang ia dapatkan.
All Rights Reserved
#750
percintaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Being a Good Papa [ End ]
  • Second Life The Geeky Boy
  • A MEMORY BETWEEN US | HARQEEL [ON GOING]
  • [BL] Sudden Omega
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • HADIAH DARI LANGIT [END]
  • MEISYA
  • Aksara Lingga
  • KEMBALI
  • Clarity

Apa penyesalan dalam hidup yang pernah kalian alami? Kalau Arthan ditanya seperti itu, maka dia akan menjawab ; Menjadi pria yang tidak berguna, sekaligus ayah yang gagal. Setidaknya Arthan ingin sekali dalam hidupnya, dia melakukan hal-hal yang membuat keluarganya bahagia. Namun, hidup yang hanya sekali itu, dia habiskan untuk hal-hal yang sesat. Berjudi, mengabaikan anaknya setelah ditinggal mati oleh istri, dan terlilit hutang hingga rentenir terus berdatangan. Lantas, pada malam dia dikejar oleh rentenir dan anaknya, Alberix, disandera oleh rentenir, Arthan tertabrak truk dan tubuhnya terhempas begitu saja di aspal, hingga aspal itu digenangi oleh darahnya yang menyebar kemana-mana. Malam dimana penyesalan terus berdatangan. Lalu, dengan begitu saja, Arthan menutup mata dengan perasaan bersalah yang menumpuk di dalam dada. Hingga ketika ia membuka mata, bukan alam Barzah lah yang ia lihat, tetapi wajah anaknya yang datar saat sedang melakukan sarapan bersama. Arthan spontan menyeletuk, "Alberuk?" Alberix langsung bombastic side eyes. "Alberix, pa. Not Alberuk, apalagi beruk."

More details
WpActionLinkContent Guidelines