Semua orang mendengar alibinya. Tidak seorang pun mendengar pembunuhannya. *** Pada pukul 22.37, Yogyakarta mendengar suara Arman Adikara untuk terakhir kalinya. Pendiri Radio Sasmaya itu tertawa, menjawab pertanyaan, lalu menutup wawancara dengan janji untuk hadir dalam siaran peringatan dua puluh tahun gempa Yogyakarta. Namun kurang dari satu jam kemudian, putrinya menemukan Arman telah lama meninggal di vila miliknya di Kaliurang. Orang terakhir yang berbicara dengannya adalah Bayu Sagara Satmaka, penyiar senior yang ikut membesarkan Radio Sasmaya. Ia menjadi orang yang paling mungkin mengetahui apa yang terjadi kepada Arman. Masalahnya, pada waktu kematian yang diyakini polisi, Bayu sedang memandu siaran langsung di dalam studio. Keberadaannya disaksikan oleh para kru, terekam kamera, terhubung dengan penelepon, dan didengar oleh ribuan pasang telinga. Bayu tidak menghindar dari penyelidikan. Ia menyerahkan seluruh rekaman, menjawab setiap pertanyaan, bahkan menawarkan diri untuk membantu polisi membongkar kematian Arman. Ketika penyidikan menemui jalan buntu, AKBP Manggala Willem Natadiningrat dipanggil kembali ke kota kelahirannya. Bersama penyidik daerah, putri korban, dan seorang peneliti sinyal akustik yang pernah disingkirkan Arman, Manggala menelusuri lima menit suara tanpa sumber serta arsip bencana yang telah terkubur selama dua puluh tahun. Di balik suara yang sepenuhnya asli, tersimpan sebuah kebohongan yang tidak terletak pada kata-kata, melainkan pada cara semua orang mendengarnya. Jika alibi Bayu benar, bagian mana dari pembunuhan itu yang selama ini salah didengar?
More details