
Pagi tak berkilau tertutup oleh mendung. Menebar rasa khawatir seisi alam. Tapi tidak untuk kawanan gagak hitam. "Hei! Apa yang kau lakukan di sana?" Seorang lelaki jangkung berseru kepada seorang wanita yang sejak tadi berdiri di emperan jembatan. Merasa seruannya tidak terdengar, lelaki itu mendekat. "Sial!" Gerutunya. Wanita yang ia lihat ternyata hanya sebuah patung buatan. Ia menarik patung itu dari tempatnya lalu menghempaskannya. Ia mengulang sampai kehabisan tenaga. Kemudian melemparkan patung ke dalam sungai. Merasa lega, ia menarik napas dan melanjutkan langkahnya. Sepanjang jalan, tiba-tiba ia membayangkan patung yang tadi ia lemparkan ke sungai. Benar. Dua tahun terakhir, baru kali ini ia melihat patung itu. "Ah, pasti milik seorang pedagang yang sengaja dia tinggalkan karena tidak laris." Pikirnya mencoba menepis pikiran negatif yang mulai mendekat. "Tapi... tempat patung itu ditancapkan sepertinya sudah sangat lama. Dan... " ia membalikkan tubuhnya. Dengan napas terengah, ia melongo. Tepi jembatan kosong. Ia melihat ke sungai. Hanya permukaan air yang berayun oleh gelombang kecil di sana. "Aneh." Keningnya mengkerut. Dengan langkah gontai, ia memaksa kakinya mengantarnya pulang ke rumah. Mendung masih tidak beranjak sampai lelaki jangkung tiba di rumahnya. Ia baru perlahan membiarkan kegelapannya menghilang saat lelaki jangkung masuk ke rumah dan menutup pintu.Tous Droits Réservés
1 chapitre