Cerita Santri Salafi

Cerita Santri Salafi

  • WpView
    Reads 1,855
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 14, 2020
21-02-99 -- 21-02-20 "Bapak memondokkan apid ke pesantren bukan berarti bapak memaksa apid harus menjadi kiyai atau ulama, bapak hanya ingin apid mendalami ilmu agama dipesantren dan bisa mengamalinya, minimal untuk kita di rumah," ucap bapak. Pesantren adalah tempat yang tidak asing lagi didengar oleh teliku, aku yang sering ikut dengan bapak dan mamah menjenguk kakak-kakaku selama mondok,makan tinggal ambil, mencuci sudah ada laundry,sekolahnya dekat dengan pondok, wajarlah pesantren modern. Aku? Beras bawa sendiri dari rumah, tempat masak masih menggunakan hawu (kompor tradisional),sekolah jauh dari pondok, mohon di maklum namanya juga pondok salafi. Pondok Pesantren salafi adalah pondok pesantren tradisional yang kental dengan nuansa lokal Indonesia, bangunan-bangunan pondok yang masih klasik, Kitab-kitab kuning (kitab-kitab klasik) yang masih dipelajari, dalam kesehariannya santri selalu memakai sarung dan kopiah,menjujung tinggi rasa hormat dan santun kepada kiyai dan orang yang lebih tua, Itulah pondok pesantren salafiyyah atau biasa disebut pesantren salafi. Kamu santri tapi belum pernah budug, berarti belum pernah merasakan nikmatnya garuk-garuk,surgawinya santri. Jangan ngaku santri deh kalau belum pernah ngalamin budug hehe. Aku dipondok hanya "jadi santri", hanya bisa masak nasi, walaupun nasinya selalu gosong,ngaji kitab kuning sama sekali belum bisa biarpun sudah ada catatan sendiri tetap saja masih gugup dan malu, disuruh pimpin tahli aja masih lihat buku panduan tahlil, dipondok mungkin aku bisa dibilang numpang tidur dan makan. Beda halnya dengan teman-teman pondokku yang sudah "santri jadi", mereka yang sudah bisa baca kitab kuning tanpa ada fatah kasroh dhomahnya, memimpin tahlil itu udah kebiasaannya tanpa melihat buku pula, hafalan kitabnya sudah tidak diragukan lagi, mereka setoran hafalan sudah sampai alfiyah. Aku? Aqidatul awam aja masih keteteran. Makanya aku hanya "jadi santri bukan santri jadi".
All Rights Reserved
#81
pondokpesantren
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DEAR GUS
  • Ijbar [Selesai]
  • Gus Dosenku (End)
  • Putih (Catatan Walisantri & Santriwati Alumni Pondok Pesantren Gontor
  • MENDADAK JADI SANTRI
  • Ning nida.
  • Gus Your Mine!
  • zaujatinya gus azam (END)
DEAR GUS

kiki, salah satu santriwati yang mondok di pondok modern salafi.... kiki mengagumi putra kyai dipondoknya, gus fikri. gus fikri berperawakan tinggi, bersih, dan kalau dilihat itu bikin adem dihati... awal kiki mengagumi gus fikri, saat kiki gak sengaja melihat gus fikri dari balik jendela kantor pondok pada saat itu kiki membayar iuran pondok. Hari berikutnya kiki ketemu lagi dengan gus fikri saat menerangkan pelajaran yang tidak di fahami teman-temanya. kiki mulai yakin kalau kiki tidak hanya sekedar kagum tetapi sudah tingkat mencintai gus fikri. kiki berfikir ini salah, karena kiki hanyalah seorang santriwati biasa, dan jauh dari kata sempurna. tetapi kiki berharap gus fikri tau apa yang dirasakan kiki. dan untuk selanjutnya silahkan dibaca sendiri ya teman-teman.....

More details
WpActionLinkContent Guidelines