Cerita Santri Salafi

Cerita Santri Salafi

  • WpView
    Reads 1,837
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 14, 2020
21-02-99 -- 21-02-20 "Bapak memondokkan apid ke pesantren bukan berarti bapak memaksa apid harus menjadi kiyai atau ulama, bapak hanya ingin apid mendalami ilmu agama dipesantren dan bisa mengamalinya, minimal untuk kita di rumah," ucap bapak. Pesantren adalah tempat yang tidak asing lagi didengar oleh teliku, aku yang sering ikut dengan bapak dan mamah menjenguk kakak-kakaku selama mondok,makan tinggal ambil, mencuci sudah ada laundry,sekolahnya dekat dengan pondok, wajarlah pesantren modern. Aku? Beras bawa sendiri dari rumah, tempat masak masih menggunakan hawu (kompor tradisional),sekolah jauh dari pondok, mohon di maklum namanya juga pondok salafi. Pondok Pesantren salafi adalah pondok pesantren tradisional yang kental dengan nuansa lokal Indonesia, bangunan-bangunan pondok yang masih klasik, Kitab-kitab kuning (kitab-kitab klasik) yang masih dipelajari, dalam kesehariannya santri selalu memakai sarung dan kopiah,menjujung tinggi rasa hormat dan santun kepada kiyai dan orang yang lebih tua, Itulah pondok pesantren salafiyyah atau biasa disebut pesantren salafi. Kamu santri tapi belum pernah budug, berarti belum pernah merasakan nikmatnya garuk-garuk,surgawinya santri. Jangan ngaku santri deh kalau belum pernah ngalamin budug hehe. Aku dipondok hanya "jadi santri", hanya bisa masak nasi, walaupun nasinya selalu gosong,ngaji kitab kuning sama sekali belum bisa biarpun sudah ada catatan sendiri tetap saja masih gugup dan malu, disuruh pimpin tahli aja masih lihat buku panduan tahlil, dipondok mungkin aku bisa dibilang numpang tidur dan makan. Beda halnya dengan teman-teman pondokku yang sudah "santri jadi", mereka yang sudah bisa baca kitab kuning tanpa ada fatah kasroh dhomahnya, memimpin tahlil itu udah kebiasaannya tanpa melihat buku pula, hafalan kitabnya sudah tidak diragukan lagi, mereka setoran hafalan sudah sampai alfiyah. Aku? Aqidatul awam aja masih keteteran. Makanya aku hanya "jadi santri bukan santri jadi".
All Rights Reserved
#180
islam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Putih (Catatan Walisantri & Santriwati Alumni Pondok Pesantren Gontor
  • Story Love  Of Aisyah Guz Adnan🍁 ( Slow update)
  • Satu Nama dalam Sujud
  • Elemental Siblings as Santri [series]
  • zaujatinya gus azam (END)
  • Pertarungan di Sepertiga Malam.
  • Attha 2 : Imamnya Salwa
  • MENDADAK JADI SANTRI
  • Cinta di langit pesantren

Keluarga dengan 7 anak yang berbeda karakter. Dari si sulung yang tinggi bak tiang listrik, tak banyak bicara, tapi suka menganggap dirinya keren, anak kedua yang pandai kali bicara, banyak kawan, semua sudut kota sudah ia jelajahi, ketiga yang paling bandel, banyak idenya, tapi paling bersih dan rapi dari semua saudara perempuannya, keempat yang paling pendiam seribu bahasa, bisa bertahan di kamar seorang diri selama satu pekan bermodal handphonenya, si kelima, si ketua kelas tiap tahun, paling sat set, tanggap dengan banyak peluang mencari uang dari sudut pasar manapun, si keenam halus bahasa jawanya, sulit senyum lemahnya, akhir-akhir ini suka sekali selfie dengan ponsel barunya, paling bontot, anak kesayangan ibu, karena ia lahir dengan pengasuhan ibu, apakah bapak sudah tiada? masih. Tapi, hanya ia, satu-satunya anak di keluarga kami yang belum pernah keliling kota bersepeda ria dengan bapak, dan satu-satunya anak di keluarga kami yang tidak pernah absen sholat shubuh jamaah di masjid, semenjak ia bisa menggunakan sarung sendiri Buku ini, kumpulan kisah dari alumni santriwati Pondok Pesantren di Jawa Timur. Pondok Modern Darussalam Gontor. Pondok Pesantren yang telah berdiri sekian tahun. Kami bukan keluarga dengan darah biru, keluarga biasa (bahkan terbilang miskin dalam status kelurahan) dengan bapak pensiunan wiraswasta usaha sewa buku, ibu dengan dagangan bubur bayi dan ayam tiap pagi. Bapak selalu mengulang nasihatnya, tak meminta kami menjadi kaya raya, bapak hanya meminta kami selalu menjaga persaudaraan, senantiasa di jalan pendidikan, bagaimanapun caranya, jangan jauh dari ilmu. Ketika sampai di pencarianmu, semoga kamu berhenti sejenak, ada banyak kisah mengharu biru disini, bukan membuatmu menangis. Tapi, mengajakmu bahwa, banyak kebaikan dan keajaiban manusia di alam raya. Ayo, kita rayakan bersama

More details
WpActionLinkContent Guidelines