Cerita Santri Salafi

Cerita Santri Salafi

  • WpView
    Reads 1,853
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 14, 2020
21-02-99 -- 21-02-20 "Bapak memondokkan apid ke pesantren bukan berarti bapak memaksa apid harus menjadi kiyai atau ulama, bapak hanya ingin apid mendalami ilmu agama dipesantren dan bisa mengamalinya, minimal untuk kita di rumah," ucap bapak. Pesantren adalah tempat yang tidak asing lagi didengar oleh teliku, aku yang sering ikut dengan bapak dan mamah menjenguk kakak-kakaku selama mondok,makan tinggal ambil, mencuci sudah ada laundry,sekolahnya dekat dengan pondok, wajarlah pesantren modern. Aku? Beras bawa sendiri dari rumah, tempat masak masih menggunakan hawu (kompor tradisional),sekolah jauh dari pondok, mohon di maklum namanya juga pondok salafi. Pondok Pesantren salafi adalah pondok pesantren tradisional yang kental dengan nuansa lokal Indonesia, bangunan-bangunan pondok yang masih klasik, Kitab-kitab kuning (kitab-kitab klasik) yang masih dipelajari, dalam kesehariannya santri selalu memakai sarung dan kopiah,menjujung tinggi rasa hormat dan santun kepada kiyai dan orang yang lebih tua, Itulah pondok pesantren salafiyyah atau biasa disebut pesantren salafi. Kamu santri tapi belum pernah budug, berarti belum pernah merasakan nikmatnya garuk-garuk,surgawinya santri. Jangan ngaku santri deh kalau belum pernah ngalamin budug hehe. Aku dipondok hanya "jadi santri", hanya bisa masak nasi, walaupun nasinya selalu gosong,ngaji kitab kuning sama sekali belum bisa biarpun sudah ada catatan sendiri tetap saja masih gugup dan malu, disuruh pimpin tahli aja masih lihat buku panduan tahlil, dipondok mungkin aku bisa dibilang numpang tidur dan makan. Beda halnya dengan teman-teman pondokku yang sudah "santri jadi", mereka yang sudah bisa baca kitab kuning tanpa ada fatah kasroh dhomahnya, memimpin tahlil itu udah kebiasaannya tanpa melihat buku pula, hafalan kitabnya sudah tidak diragukan lagi, mereka setoran hafalan sudah sampai alfiyah. Aku? Aqidatul awam aja masih keteteran. Makanya aku hanya "jadi santri bukan santri jadi".
All Rights Reserved
#1
santrisalafi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elemental Siblings as Santri [series]
  • Satu Nama dalam Sujud
  • MENDADAK JADI SANTRI
  • Story Love  Of Aisyah Guz Adnan🍁 ( Slow update)
  • Hati santri yang tak tentu
  • Gus Vs Ning
  • Putih (Catatan Walisantri & Santriwati Alumni Pondok Pesantren Gontor
  • Attha 2 : Imamnya Salwa
  • zaujatinya gus azam (END)

Hah? Mondok?? Jadi santri?? Ah, itu mah gampang! Tapi setelah menjalani kehidupan di Pondok Pesantren, ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan. Terpaan badai besar membuat mereka mau tidak mau harus bertahan demi menuntut ilmu dan memenuhi harapan orang tua mereka. Beradaptasi kembali dengan kebiasaan baru serta rutinitas baru yang pastinya tidak mudah. "Pokoknya gua gak terima keputusan sepihak kayak gini!" "Bang, lu gak berjuang sendirian. Ada gua dan yang lainnya yang bakal ada disamping lu." "Demi apasi wajib bahasa Arab?? Gua cuma tau kaifa haluk." "Ghosob itu apa?" "Butuh sabar macam apalagi ini." "Kenapa ya kita bisa sampe disini?" "Emang udah takdir." Elemental Siblings as Santri (series) © sollightning Collab project w/ ma friend @cinnamonae

More details
WpActionLinkContent Guidelines