Jingga
  • WpView
    Reads 288
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 22, 2020
"Jingga, lu harus bertahan gue mohon demi gue lu harus bertahan" mohon angkasa kepada sang adik yang sedang melamun "Gue rasanya pengen mati aja, ga apa apa kan ya?" tanya jingga kepada angkasa sambil terkekeh menahan semua sakit yang ada di dalam tubuhnya Jingga Aditama remaja berusia 16 tahun itu hidup berdua hanya dengan sang kaka yang bernama Angkasa Aditama, mereka terpaut usia 4 tahun.Angkasa dan Jingga saling melindungi dan menjaga seperti pesan kedua orang tuanya. Selamat membaca, semoga setelah membaca kisah 'jingga' ini kalian lebih tenang dan melewati kehidupan dengan lebih bahagia, salam hangat. Collab with @Hrlna_10 Sampul by @MiuMiuCam
All Rights Reserved
#323
jingga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • Only Siblings
  • Senja dan Jingga
  • Family Line
  • ALASKALETTA
  • Angkasa ✓
  • ALKANTARA || END || Belum Revisi
  • [✅]Angkasa Untuk Sahara-Jihoon
  • Home?
  • Menjadi Skala ✓

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines