Hi! I'm Bipolar

Hi! I'm Bipolar

  • WpView
    Reads 83
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 19, 2020
Terdiagnosa terkena bipolar disorder dan borderline personality disorder bukan hal yang mudah diterima nalar. Hati dan fisik seringkali berdebat. Belum lagi lingkungan yang toxic sudah pasti menampung banyak stigma yang sangat menyakitkan. Lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga seringkali menjadi trigger. Mental illness sakit jiwa? Big no! semua itu hanya masalah perubahan suasana hati yang terlalu cepat saja. Mood swing yang sangat parah menuntunnya untuk masuk pada fase depresi, dimana yang terlintas dipikirannya hanyalah suicide. Selfharm telah menjadi candu yang menyakitkan baginya.
All Rights Reserved
#814
toxic
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sembagi Arutala
  • I Wanna Die Soon (Beginning)✔️
  • DERANA |  Haruto Jeongwoo
  • ON REMEMBERING
  • Garvitara [END]
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • Bipolar Disorder [h.s]
  • My Second Life (Completed)
  • Jangan Pukul Devan, Ayah!  (END) ✅

Sembagi Arutala. Nama yang begitu indah, bukan? Nama yang terdengar seperti doa-mengandung makna harapan, cita-cita, dan sinar rembulan di malam gelap. Namun, hidup pemilik nama itu tak pernah seindah artinya. Arutala-begitulah panggilannya. Seorang anak laki-laki yang tampan, pintar, dan tampak selalu ceria. Ia pandai menyembunyikan kesedihan dengan senyuman. Tapi di balik keceriaan yang dilihat orang, tersembunyi jiwa yang rapuh. Bahkan sangat rapuh. Arutala tidak pernah mengerti, kenapa keluarganya memperlakukannya seolah ia tidak ada. Ia tidak pernah tahu alasan di balik kebencian itu-ia hanya tahu bahwa sejak kecil, ia harus belajar menerima dinginnya pelukan yang tak pernah datang, tatapan yang tak pernah mengakui keberadaannya. Setiap hari, Arutala bertanya pada dirinya sendiri, "Apa salahku?" Ini hanyalah fiksi belaka. Jangan diseriuskan. Ide murni author. Publish : 2-4-24

More details
WpActionLinkContent Guidelines