Langit terasa runtuh di kepala Zayn saat mendapati istri yang amat dia cintai berada di kamar yang sama dengan lelaki lain tanpa sehelai benang yang menutupi. Ada luka menganga yang seketika tercipta di relung hatinya, bagai tersayat pisau tak kasat mata. Namun, amarahnya jauh lebih mendominasi. Bisikan "Mati, mati, mati" seketika memenuhi isi kepalanya dan dengan senang hati dia turuti. Mengabaikan permohonan maaf dari dua pengkhianat kotor yang tergesa menutupi tubuh polosnya. Mulai detik itu, Zayn bukan lagi Zayn yang hangat dan penyayang, tapi dia adalah Zayn yang haus darah, tak peduli apa pun. *** Cover by Canva
More details