ChatrineOlivia🕊

ChatrineOlivia🕊

  • WpView
    Membaca 45
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Mar 11, 2020
Chatrine Olivia sedang berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari komplek rumahnya, dan mata tertuju pada Ervan Abraham yang kini berstatus kekasih di masa SMA. "Oh jadi selama ini gua cuma jadi bahan teruhan kalian?"tanya chatrine tidak percaya apa yang terjadi malam ini. "Daannn selama ini loh udah punya pacar?siapa pacar loh hah?siapaaaa!? Tanya chatrine emosi dan tidak bisa membendung air mata. Keempat cowo yang berada di depan nya hanya menunduk tidak ada yang menyahut satu orang pun. "Gua pacar nya ervan abraham" ucap cewe yang berada di belakang chatrine dan saat chatrine menengok kebelakang semakin dirinya tidak percaya dan meninggalkan cafe tentu saja menjadi pusat perhatian orang-orang. "Kenapa harus sahabat guaaa" ucap chatrine dalam hati dan menangis terisak-isak, "malam kemaren gua mimpi apa?" Lanjut chatrine sambil mencengkram guling yang berada di kamarnya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#1
abighea
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Claret! || Fresha
  • Senandung Dua Jiwa 2
  • Nine Problems (END)
  • AURORA [END]
  • DEDEL(Zeedel)                                         (Slow Update)
  • MY IDOL GIRLFRIEND ( ZEESHA )
  • Juragan Tampan &  Gadis Kampung
  • [1] Because Of You -idr-
  • Crazy Guy Vs Sassy Girl ( ZEESHA )

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan