Chocolate

Chocolate

  • WpView
    Reads 4,546
  • WpVote
    Votes 1,592
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 20, 2020
Dengar, ada yang ingin aku kisahkan padamu. Perihal peluk yang tak jadi hangat semenjak kalimat keramat terucap. Kau tahu, tidak? Hal yang lebih patah dari luka? Bersama namun raga saling menjauh. Digenggam namun harus dilepaskan. Bersatu dipaksa berpisah. Ya, mungkin karena itu, cerita ini dirangkai menjadi untaian kata yang aku pun tidak tahu, apakah akan mendarat di pendengaranmu. Kisah sekedar kisah, entah mau berkisah atau tidak. Tidak ada yang tahu. Semesta yang paling tahu sekali pun, tidak kuberi tahu. Bukan karena mau menutupi, tapi bungkam yang akhirnya menjadi pendam adalah satu hal yang pasti agar luka tidak mendendam. Penasaran? Memang harus begitu. Supaya jelas, silahkan tilik cerita ini sampai selesai. Semoga semesta menyambut kalian dengan peluk.
All Rights Reserved
#427
sastra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Promise or Leave
  • As Time Allows
  • FIZYA
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • ASRAR|
  • 00.00
  • Maaf, Aku Terlambat END✅
  • GREENSTA [END]

WARNING!!! Foto cover ambil di pin. Cerita ini hasil dari pemikiran ku sendiri. Kalau ada kesamaan nama tokoh, Cerita, serta judul itu berarti karena murni sebuah ketidaksengajaan. Ada beberapa kalimat dan bahasa kasar di dalam cerita, mungkin ada sedikit adegan kekerasan, baik verbal maupun nonverbal. Jika tetap terus melanjutkan harap bisa mengambil sisi positifnya. Yang jelek di buang, ambil yang baik baik saja. Sebaiknya follow dulu sebelum membaca. . . . "Selama aku bisa melakukannya sendiri aku tak butuh yang namanya laki laki." "Bahkan laki laki itu tak becus menjalani perannya." "Makhluk tak berguna itu tak pantas ada." "Dia bahkan memberi luka tanpa penawar." "Mengenal salah satunya saja termasuk bencana." "Menganggap Makhluk itu adapun rasanya enggan." "Kalau saja bisa, akan gue bunuh semua makluk tak berperasaan itu." "Mari kita bantai habis mereka!" mereka tertawa keras dengan tangan saling merangkul satu sama lain. "DENGAR GIRLS! MEREKA TIDAK BISA MENINDAS JIKA KITA SELALU BERSAMA." "SETUJUUUUUUU." Mereka berteriak keras di tepi tebing terjal, suara teriakan mereka menyatu dengan deru ombak di bawahnya. membagi luka dengan lautan, itulah yang mereka lakukan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines