Catatan Anak Gap Year

Catatan Anak Gap Year

  • WpView
    Membaca 46
  • WpVote
    Vote 7
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Mei 15, 2024
Jatuh, aku benar-benar jatuh kala itu. Bahkan hiduppun aku hampir tak ingin. Ketika tulisan berwarna merah itu terpampang dengan jelas di layar ponselku, jantungku seketika sesak. Seolah ingin berhenti saat itu juga. Kucoba untuk menarik napas dalam, namun hanya semakin sesak yang ada. Mataku mulai panas, benar-benar panas, sepertinya malam ini aku akan membasuh wajahku dengan tangisan. Dan nyatanya benar, aku menangis. Seluruh emosi seketika tumpah. Hanya bisa merasakan sakit tanpa ingin berhenti menjadi lebih baik. Saat itu juga duniaku berubah. Kisah ini bukan kisah drama disertai menye-menye bebucinan anak ABG. Tapi ini real life dariku dan beberapa teman-teman ku. Tapi tenang aja, kita ngga akan spabeng sepanjang cerita kok.😁
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#317
organisasi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Accompany Me - {REVISI}
  • psychologycal
  • Let Me Love You Longer
  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • M E M O R Y  (On Going)
  • ALEYA~~
  • Different [END]

Aku pernah melangkah penuh percaya diri di kampus negeri, di mana mimpi-mimpi sederhana terasa seolah sudah ada di ujung tangan. Aku aktif, dikenal, dan percaya bahwa masa depan yang cerah hanyalah soal waktu. Tapi ketika ibu pergi, semuanya runtuh tanpa ampun. Sunyi menyelimuti rumah yang dulu penuh tawa, tabungan menguap seperti angin, dan Jati diri terhempas jauh melayang lalu sirna bersama rasa kecewa, Ayah terdiam dalam kebingungan, kehilangan arah yang dulu ia genggam erat. Aku yang muda, yang seharusnya berlari mengejar mimpi, terjerat oleh tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul sendiri. Aku berhenti kuliah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena harus memilih, melanjutkan mimpi yang kian menjauh, atau bertahan untuk keluarga yang runtuh. Hari-hariku berlalu begitu saja, menampung lelah yang tak selalu terlihat, dan pertanyaan tanpa jawaban yang terus menghantui kenapa dunia ini tak selalu berpihak pada mereka yang berjuang paling keras? Aku merangkai kekuatan dari serpihan kehilangan, menenun harapan dari kegelapan yang pekat. Aku berdiri, walau rapuh, karena menyerah bukanlah bagian dari ceritaku. Perjalanan ini belum selesai, dan aku tahu, langkahku harus terus berlanjut, meski dunia kadang membelakangi dan meninggalkan.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan