Langit Untuk Semestanya ✓

Langit Untuk Semestanya ✓

  • WpView
    Reads 2,004
  • WpVote
    Votes 266
  • WpPart
    Parts 45
WpMetadataReadComplete Wed, Feb 2, 2022
S E L E S A I "Lo nggak perlu selalu ada buat gue, karena mulai hari ini gue yang akan jadi seperti itu. Gue akan jadi Lathan yang ngelindungin Raina kayak Langit melindungi seluruh semestanya." Raina tidak pernah tau, yang lelaki itu katakan tempo hari akan menjadi sesuatu seperti apa. Sebuah kenyataan yang menyenangkan, ataukah sebatas kalimat penenang yang mungkin hanya akan jadi sebuah bumerang bagi keduanya? Karena masa depan adalah hal jangka panjang, dan mereka tidak bisa melihatnya. Tidak ada kepastian tentang langit yang selalu ada, mungkin saja dia juga akan pergi. Mungkin pergi meninggalkan hujan tanpa Langit lagi. ©️ copyright by NonaBellee 2022
All Rights Reserved
#92
rain
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Selamat Tinggal Yang Tak Terucap
  • Rainangkasa [TERBIT]✅
  • Raina
  • Fallin' Flower
  • Rainangkasa #2 [END]
  • SENI PROSAIS (End)
  • Garis Luka
  • Laksana Hujan [completed]
  • Dear Anonymous

Ini cerita tahun 2023, yang aku selesain 2024 dan sekarang aku rombak lagi ya guysss. °°°°°° Arka berdiri tegak, tatapannya tajam menusuk ke arah gadis yang kini hanya bisa diam membeku. Suaranya dalam, terdengar jelas di antara keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. "Aku bukan pengecut," katanya, penuh penekanan. "Meninggalkan seseorang tanpa memberinya salam perpisahan terlebih dahulu, itu adalah hal paling pengecut yang seorang pria lakukan." Kata-kata itu menghantam gadis di hadapannya seperti ombak besar yang menggulung tanpa ampun. Dia terpaku, bibirnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Jari-jarinya yang semula menggenggam erat ujung bajunya kini mulai melemas, seiring dengan tatapan matanya yang perlahan meredup. Arka menghela napas, menekan emosinya yang hampir meluap. Ini bukan sekadar luapan emosi sesaat-ini adalah luka yang telah ia pendam terlalu lama, menumpuk di hatinya seperti bara yang tak kunjung padam. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang akan pergi tanpa pamit? Seperti seseorang yang melupakan begitu saja?" lanjutnya, nada suaranya kini sedikit bergetar, entah karena amarah atau luka yang terlalu dalam. Gadis itu masih diam. Matanya menatap Arka, tetapi ada ketakutan di sana. Bukan ketakutan karena marahnya Arka, tapi ketakutan bahwa dia benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Hening kembali menyelimuti mereka. Arka menunggu jawaban, tetapi gadis itu tetap membisu. Dan dalam diam itu, hanya ada satu hal yang tersisa-rasa sakit yang tak terkatakan. 23 December 2023

More details
WpActionLinkContent Guidelines