CATATAN SEORANG GURU, SEBUAH DIARY

CATATAN SEORANG GURU, SEBUAH DIARY

  • WpView
    LECTURES 7,111
  • WpVote
    Votes 120
  • WpPart
    Chapitres 9
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., janv. 5, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Ini hanyalah goresan iseng penulis yang begitu bangga saat dipanggil pak guru oleh sekelompok remaja berseragam putih abu-abu. Merangkum berbagai kisah nyata dalam mengolah coretan tinta pena beradu dengan kertas, ataukah hentakan spidol hitam pekat dengan papan tulis putih besar. Boleh saja fakta seutuhnya, dan boleh jadi disisipi bumbu fiktif penambah cita rasa. SMK S3 Idhata Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu adalah keluarga. Tak kan mungkin setiap jengkal kisahnya pupus begitu saja dihembus angin senja yang esok lusa akan meninggalkan lupa. Dan inilah jejak sang guru akan dikisahkan.....
Tous Droits Réservés
#193
ekskul
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • RIMBA MERUN
  • Ibu sambung untuk anakku ✔
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • My Badboy Is My Prince
  • Dosgans
  • Pak Udin
  • Kandang Setan: Reborn
  • Gradasi Laut Biru (Terbit!)
  • Sweet Combat
  • The Man

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu