Agniya dan Problemnya

Agniya dan Problemnya

  • WpView
    Reads 451
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing1h 27m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 1, 2020
Gagal ngampus setelah lulus SMA? Bukan hanya Agniya. Tapi kalau sampai nge-gap dua tahun lamanya, yakin masih berharap masuk PTN impian? *** Agniya menjadi peserta Ospek kelahiran 1998 di antara peserta lain yang rata-rata kelahiran 2001 bahkan 2002, sering diganggu sama berondong, dikira sudah berkeluarga, sampai dikejar-kejar dosen muda berusia awal 30-an. Agniya juga harus menahan emosi tiap kali mendapat perlakuan tak sopan oleh teman kuliahnya, karena bagaimana pun pada kenyataannya, jiwa 'tua'nya tersentil. Tapi dia cukup salut dengan teman sekelasnya yang tak jarang memperlakukannya dengan terhormat dan menyebutnya 'Kakak Tertua'. Di samping semua itu, kenyataan bahwa teman-teman semasa SMA-nya sudah wisuda dan sebagian lainnya memiliki usaha, sedangkan dia masih berada di tingkat 2 membuatnya mengaku terserang krisis seperempat abad. Agniya merasa hidupnya tidak memberi manfaat apa pun, terutama bagi agama. Bahkan dia ingin berhenti kuliah saja. Melihat Abi yang juga menunda kuliah selama dua tahun tapi sudah memiliki bisnis kafe yang bercabang-cabang, Agniya merasa gagal. "Nikah muda, enak kali, ya." Begitu ucapnya. Tapi tentu saja Almira, asisten dosen yang mengenalkannya dengan LDK (Lembaga Dakwah Kampus), tidak tinggal diam. Berkat Almira juga, Agniya bertemu dengan Affan, senior tingkat 4 yang dijuluki Ustadz Muda DKV.
All Rights Reserved
#98
fiksiremaja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • 𝐒𝐡𝐞'𝐬 𝐌𝐲 𝐎𝐛𝐬𝐞𝐬𝐬𝐢𝐨𝐧 { 𝗢𝗚 }
  • TAKDIR TERINDAH
  • Sumpah Sang Mantan (Tamat)
  • SAKITI AKU! [ ✅ COMPLETED ]
  • 𝐌𝐫𝐬.𝐑𝐢𝐲𝐲𝐚𝐝𝐡 𝐙𝐚𝐲𝐲𝐡𝐝𝐢𝐭𝐡 : 𝐇𝐢𝐬 𝐋𝐞𝐠𝐚𝐥 𝐖𝐢𝐟𝐞 [✓]
  • Jangan Berpaling Dariku
  • BENAR UNTUKMU [C]
  • Sumandak Si Jejaka Russia

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines