Harmony of Love

Harmony of Love

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 19, 2020
Mungkin, kebahagiaan hanya sebuah angan-angan bagiku. Hanya sebuah mimpi yang tak akan bisa kuraih. Jangan kan melangkah, bernafas saja sudah sangat menyiksaku. Bayangan ku sendiri seolah seolah menjadi musuh beratku. Tuhan, sampai kapan kau akan mengujiku? Sudah cukup. Cukup sudah kau memberikan luka di hati ini. -(Fiza Ananda)- Bagai mentari yang terbit, senyum itu selalu ada untuk menghangatkan ku. Tatapannya yang satu hendak saja ku ubah menjadi tatapan cinta. Siapa wanita nan manis dan unik itu? Ingin sekali ku peluk saat dia bersedih. -(Edo Pratama)- Tatapan itu tak pernah ku lupakan. Tatapan yang membuat rasa penasaran selalu menguasai diriku. Kau siapa? Yang berani-beraninya mengusik ketenanganku? Haha menggelikan. Kau unik Fiza. Kau unik, hingga kau berhasil membuat diri ini mencintaimu, seutuhnya... -(Allo Agasta)- Ini sebuah kisah, dimana gadis manis yang di selubungi oleh rahasia di sebutkan oleh dua pria yang mencintainya. Siapakah yang akan ia pilih? masih menjadi sebuah misteri
All Rights Reserved
#31
edo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines