PINDAH  [SLOW UPDATE]

PINDAH [SLOW UPDATE]

  • WpView
    LECTURAS 3,350
  • WpVote
    Votos 1,606
  • WpPart
    Partes 41
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, mar 30, 2021
Ini adalah sebuah kisah tentang masa lalu, kehilangan, merelakan, dan kenangan. Tak lupa juga tentang kincir angin pasar malam. Aku harap aku bisa pindah dan menemukan kebahagianku yang baru, karena di setiap langkah perjalanan yang ku ambil. Ada hal kecil tentangmu yang tak akan aku lupa. Blurd : Aku menangis dalam pelukannya, pelukan yang membuatku nyaman dan aman. Pelukan yang hangat. Dia berusaha menenangkanku mengusap kepalaku dengan lembut dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Persis seperti yang dulu ku lakukan padanya. Arini: " Aku emang masih sering mikirin kamu, masih suka rindu saat-saat kita dulu. Tapi maaf buat balik lagi sama kamu aku gak bisa." Mahesa: " Kamu harus inget kadang ada beberapa hal yang gak bisa masuk ke kehidupan kita, walau seberapa keras kita minta dan berusaha, itu gak akan pernah jadi milik kita. Karena yang terbaik menurut kamu belum tentu baik menurut Tuhan" Dimas: " Kamu itu udah jadi yang paling terbaik. Dan itu adalah versi aku."
Todos los derechos reservados
#154
kekasih
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • 2.LAST RAIN [ You're the only one ]✔ Lee Jeno
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • Aku Tetap Menunggumu
  • Maaf' (Revisi)
  • BULAN [Selesai]
  • Haruskah Mati? √PART LENGKAP [TERBIT]
  • GERA (SUDAH TERBIT)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido