Seperti bilangan nol, kosong dan tak terdeskripsikan. Seperti angin, menemani, tapi sulit di gapai. Seperti air, dapat di rasakan, tapi sulit di genggam.
Saat masih jauh, kau mendekat. Saat ingin dekat, kau menjauh. Bodohnya hati, terus mengejar tanpa lelah. Tetap berjuang meski hasilnya sia-sia. Rasanya ingin menyerah, namun di urungkan saat kau tertawa lepas tanpa beban, tanpa masalah. Meski aku tahu, kau lebih di tempa untuk kuat dalam derita daripadaku yang di kelilingi cinta.
Saat pertama kali menderita, lelah, rasanya ingin menyerah, saat itulah kau datang. Kemeja birumu adalah favoritku saat aromamu menusuk hidung. Di saat itulah aku tahu, bahwa kau adalah penyelamatku.
"Jangan memandang ke atas, tetapi ke bawah. Percayalah, hidup ini lebih kejam dari apa yang kau pikirkan," Ujarnya pelan, suaranya lembut dengan senyum yang selalu aku rindukan.
"Wes dhuwur, gedhe, gagah, resik, bagus ngono seh dadi dudo. Ancene Rita keblinger wong taiwan" Andin yang mendengarnya pun kaget mendengar perkataan ibu-ibu disampingnya tadi.
*Udah tinggi, besar, gagah, bersih, ganteng gitu masih jadi duda, dasarnya rita ngebet sama orang Taiwan
Pasalnya Andin kan baru saja pindah setahun, ia tahu bahwa Juragan yang sedang dibicarakan ibu-ibu ini seorang duda beranak satu. Tapi Andin tidak tahu sebab ia menjadi duda. Banyak gosip beredar, kalau laki-laki dengan panggilan Juragan itu menjadi duda karena sudah tidak bisa 'berdiri', karena 7 tahun menduda belum juga menikah lagi, padahal dari tampangnya menurut Andin ga jelek-jelek amat, masih bagus kalo buat diajak kondangan.
"Mosok ngono toh bu? Jarene bu endang malah wes raiso 'ngene'" sambung bu yayuk sambil menggerakan jarinya mempraktikan apa yang dimaksud nganu, dengan telunjuk yang mengacung.