°SATRYA°

°SATRYA°

  • WpView
    Reads 1,042
  • WpVote
    Votes 85
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 25, 2020
Kapten Satrya cowok berpostur gagah, tinggi yang paling dingin dengan cewek dan memiliki sifat bijaksana, bertanggung jawab, mapan, dan sholeh Siapa sih yang nggak mau sama dia?? Satrya slalu mengalah dengan Alfia yang memiliki sifat labil dan masih kekanak-kanakan walau kadang membuatnya jengkel. Tapi yang namanya Satrya ya tetap bertahan. ~Abdian ku pada negara sama halnya dengan abdian ku pada cinta yang akan terus memilih mu untuk menjadi pendamping ku~Abraham Satrya Pamungkas_ "Dengarlah, ini bukan tentang siapa yang datang dahulu namun ini tentang siapa yang mampu bertahan dan tak akan pernah pergi" gumam, Satrya "Aku tak mengerti jalan pikiran mu, untuk apa kau tetap mengejar ku walau aku slalu menolaknya" gerutu Alfia "Karena aku rela jika harus melangkahkan kaki walau lantai ini terasa amat licin. bagiku kaulah sandaran yang akan menolong ku jika aku jatuh dan bahkan tak bisa bangkit" Satyaa_
All Rights Reserved
#1
satrya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • TENTANG JODOH : Gue Mah Santai.
  • cinta yang terlambat
  • Ku buat mauxIDR
  • My Taruna
  • Pura-pura Jadi Calon Istri Bos (TAMAT)
  • AFIKA [ END✔ ]
  • CLBK (Cisah Lama Belum Kelar)
  • Cinta Alif
  • Zakia & Sang Abdi Negara

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines