Murid Nasib

Murid Nasib

  • WpView
    Reads 82
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 3, 2020
Murid Nasib "Jiwa yang berhenti tumbuh" Tulisan yang kurang layak untuk didengar, jika anda tak berniat membaca pulanglah dan tumbuhlah dalam kekeringan. Perihal nasib, nasib itu tidak akan menjadi sebuah beban, disaat dirimu mulai sadar bahwa nasib adalah sastra tuhan yang paling artistik untuk kamu baca, kamu renungi dan kamu pertanyakan. Tidak ada alasan normatif bagi saya dalam memberi judul "Murid Nasib" pada tulisan ini. Namun, pesan nasib kala pagi dan sore itu menuntut diriku untuk menjadi muridnya kapan saja dimana saja. Kalam-kalam nasib itu sama sekali tidak kutemui di tumpukkan buku-buku filsafatku yang tebal-tebal dan njelimet. Justru kutemui kalam nasib pada saat buku-buku itu tertutup dan menyusun kata "Berdebu". Tulisan yang sama sekali tidak berbobot ini sedikit menawarkan bahan refleksi, ia tidak memuat bahasa seperti bahasa tulis para penulis ulung. Saya tawarkan sedikit saja bagaimana alur akal dan hati kita dapat merefleksikan hal kecil dalam hidup. Pendek kata, saya hanya ingin mengatakan "Bacalah! suburkan keremajaan jiwamu dan jangan tumbuh dengan meninggalkan keremajaannya" Selamat sekolah!
All Rights Reserved
#35
storytelling
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • ZIVANA(ON GOING)√
  • Jodoh Kedua (END)
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • ALEYA~~
  • SELESAI (Say Goodbye)
  • Satria Biji Hitam

Hanya menuang segala kata dalam hiruk-pikuk kehidupan-merekam apa yang lewat, menuliskan apa yang terlintas, tanpa janji akan kedalaman atau kebijaksanaan. Tidak ada urgensi untuk menjelaskan, tidak ada kepentingan untuk dipahami, sebab dunia sudah penuh dengan orang yang mengira dirinya tokoh utama. Kata-kata berdiri sendiri, mengalir mengikuti arus yang tak selalu jelas arahnya, seperti rapat yang seharusnya bisa diselesaikan dengan satu email. Kadang tajam, kadang datar, sering kali hanya sekadar ada, mengisi ruang seperti iklan yang muncul di saat paling tidak dibutuhkan. Kadang melankolis, kadang sinis, kadang seperti bercanda tapi ternyata menyelipkan sesuatu yang dalam. Hidup ini kadang absurd kadang, ah sudahlah-namun makna di dalamnya juga sering lewat tanpa permisi. Saya pun sadar, tidak semua orang punya waktu untuk membaca sesuatu yang mungkin hanya sekadar refleksi seseorang yang terlalu banyak diam di pojok ruangan, mengamati bagaimana orang-orang tertawa, menangis, lalu pura-pura lupa bahwa mereka pernah melakukan keduanya. Tapi tenang saja, saya tidak akan memaksa Anda untuk membaca sampai selesai-membaca separuh lalu berpikir, "Ah, ini mah nggak masuk akal," juga merupakan bagian dari perjalanan menemukan makna, bukan? Maka, jika pada akhirnya tulisan ini lebih mirip tumpukan halaman tugas yang ditunda dikerjakan sampai tenggat waktu atau coretan iseng di pinggir buku catatan kuliah yang berakhir lebih eksistensial dari esai akademik-saya tidak akan terkejut. Seperti manusia yang mencari hiburan, semua tulisan ini juga mungkin sedang mencari pembacanya yang tepat, atau setidaknya, seseorang yang cukup penasaran untuk bertanya, "Ini cerita isinya apa sih?" sebelum akhirnya menguap dan kembali membuka media sosial. Jika Anda menemukan sesuatu yang berharga di dalamnya, anggap saja saya sedang beruntung. Jika tidak, ya, setidaknya saya sudah menyumbang satu tulisan lagi ke alam semesta ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines