Perfect Boy Vs Bad Girl

Perfect Boy Vs Bad Girl

  • WpView
    Reads 74
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 11, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Tidak lama. Dengan rasa penasaran, kucoba melirik orang-orang di sekelilingku. Di sebelah kiriku, seorang gadis berambut panjang menarik hatiku. Sambil melirik, gw perhatikan dia. Rambutnya pirang, rambutnya kuning indah, matanya memandang sayu, ditambah dengan bibirnya yang tipis dan muka manisnya, dia membuat jantungku berdetak hebat. Rasanya, gw pernah lihat tuh cewek. Tapi di mana?..- Fernando arfanasta -------- Plagiat Dilarang Mendekat 📛 Semoga Kalian Suka Sama Cerita Kedua aku ❤❤ Cerita Murni dari pikiran dan imajinasiku Maaf Kalo penulisannya Belom benar:) Rank #640 Benci. (03/05/2020) #543 Benci. (13/05/2020) #157 Kangen (15/05/2020) #12 Fernando (14/06/2020)
All Rights Reserved
#505
angel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • REYDIRA  || TERBIT
  • Bad Girl vs Ice Boy ✔
  • About feelings   (selesai)
  • COLD GIRLS OR BAD GIRLS
  • Miss But Hate | End | Revisi
  • Me And Myself {Completed}
  • First Love And Last Love(✔)🔚
  • Queen (End)
  • ELSA [ON GOING]

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines