Calon Penghuni Surga

Calon Penghuni Surga

  • WpView
    Leituras 40
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização seg, mar 2, 2020
WpInfo
Não Ficção
Bagi Hamnah pernikahan adalah ibadah untuk menyempurnakan separuh agamanya. Hamnah hanya seorang istri yang berusaha ingin menjadi istri yang baik, dan menjadi calon wanita penghuni surga dengan mengabdi kepada suaminya. Hamanah berusaha untuk tidak berfikir negatif kepada suaminya, tetapi semakin hari setelah melihat sesuatu privasi suaminya semakin meragukan kepercayaan suaminya. Entah sampai kapan Hamnah akan menahan semua ini? Entah siapa yang akan menghapus aliran air mata ini? Setelah aliran air sungai surga suaminya tercemar. Entah siapa yang akan menguatkannya? Entah bagaimana dengan Bening, jika ada sesuatu hal yang membuat Hamnah dan Adam berpisah. Apakah dia akan selalu bahagia seperti sebelumnya? Selamat membaca❤
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Surga Yang Telah Hilang
  • Dzikir Cinta (Selesai)
  • Innallaha Ma'Anaa | SELESAI
  • Can I Ask You a Question? (END)
  • Wanita Kedua Suamiku (On Going)
  • Cinta yang Tak Direncanakan |OhmNanon| |GS| END
  • Your Secret in Our Marriage (END)
  • Heaven In Your Eyes (SEASON 2)
  • Labuhan Terakhir

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo