Azzam & Zahra

Azzam & Zahra

  • WpView
    LECTURES 120
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Chapitres 5
WpMetadataReadTerminé sam., juin 20, 2026
[ Kisah Zahra ✓ ] ✍ Spiritual - Islam - Romance - - Bismillahirrahmanirrahim - _____________________ Hati Zahra selalu bergetar tak kala mendengarkan surah Ar- Rahman, hatinya selalu merinding dan bergetar saat mendengar suara bisikkan "La tahzan" pemuda itu selalu menasehati dirinya tak kala ia bersedih, siapa kah yang selalu menenangkan Zahra? Akankah hatinya berlabuh pada sosok pemuda itu? Bagaimana lanjutan cerita Zahra? Benarkah Zahra benar-benar mencintai pemuda itu? ___________________ [ Zahra ] By cover : ‌@scorpyoxy By karya : @Nanaqueen28
Tous Droits Réservés
#500
zahra
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • The Villain Mother
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello, KKN!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • My Celestia [ON GOING]
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Be My Wife
  • The Last Yes!

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu