Pada Senja, Kita Bertemu di Batavia.
21 parts Ongoing PROLOG
Cinta?
Sebuah kata yang berulang kali terdengar, tetapi tak pernah benar-benar ia mengerti. Bagi Halira, hidup bukanlah dongeng dengan akhir bahagia, melainkan jalan panjang yang dipenuhi kesenjangan dan luka yang diwariskan sejak lahir. Ia tumbuh di antara batas-batas yang tak bisa ia pilih, dalam keluarga yang lebih mengenal garis darah daripada kasih sayang.
Dan Sabiru, sahabat yang selama ini ia yakini sebagai tempatnya pulang, perlahan menjauh. Ia tak pernah menghakimi, tetapi diam-diam merasakan batas yang semakin nyata-sebuah jurang tak kasatmata yang perlahan menelannya menjadi bayangan, menjadi asing di dunia yang seharusnya memeluknya.
Lalu, pada suatu senja yang membawa angin laut dengan aroma asin yang tajam, Halira menemukan sosok itu.
Leyden van Reinjes.
Seorang lelaki yang tampak seperti pahatan dewa, dengan sorot mata biru sedingin lautan yang menyimpan rahasia di kedalamannya. Seorang letnan jenderal yang lahir dan dibesarkan dalam kemewahan yang mengajarkan bahwa kesempurnaan adalah harga diri, bahwa luka adalah aib, dan bahwa cinta hanyalah mitos murahan bagi mereka yang lemah.
Di antara mereka, sehelai selendang melayang, terbawa angin sebelum menyentuh wajah Leyden dan akhirnya terseret ombak, menghilang tanpa jejak.
Halira menatapnya dengan kesal.
Leyden hanya diam, membalas tatapannya.
Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu akan menjadi awal dari kisah yang lebih dari sekadar luka, lebih dari sekadar cinta yang dilarang.
Karena setelah hari itu, senja tak pernah lagi sama.