Giyanti
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 16, 2024
Namaku Giyanti, perempuan yang lahir di antara semilir angin sawah dan suara bocah-bocah yang bermain di pematangnya menanti senja. Temanku adalah pagi dan pelipurku adalah malam-malam sunyi. Sampai tumbuh dewasa, aku hanya mengenal satu cinta, dari seorang lelaki muda yang menawarkan kata setia. Tapi ternyata, ia pergi lebih cepat, meninggalkan sekelumit duka mendalam, dan aku bergeming. Terus berkutat dengan nasib, melalui hari-hari sepi yang mengebiri. Sampai pada akhirnya, cinta baru menyapaku, seperti hujan yang menyapa pepohonan di tengah kegersangan, menawarkan senyum yang telah lama lari dari hidupku...ialah matahariku, yang gagah menyinari setiap sudut hati yang beku. Padanya, kusemaikan harapan dan kulabuhkan cinta yang telah lama mengendap di relung hati.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [COMPLETED] 7 Days
  • Menyimpan Rasa (END)
  • I Hope...
  • About That Night
  • Me and My World
  • My Sugar Duda (END)
  • INTUISI
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Snowy Miracle (✔) [PROSES PENERBITAN]

Apa yang akan kamu lakukan jika suatu hari kamu membuka mata dan menemukan dirimu berada di sebuah tempat asing tanpa satupun memori tersisa dalam ingatanmu? --- "Huh?!" Aku membuka kedua mataku ketika suara dentuman besar terdengar berdebam di kepalaku. Kedua bola mataku bergerak mengamati apa yang ada di sekitarku- sebuah rasa tak biasa kurasakan menelusup dalam benak. Sebuah perasaan asing. Namun pikiranku terasa begitu ringan-tak ada satupun yang melintas dalam kepalaku selain tiga hal tadi; jalanan malam, seorang wanita, dan sebuah ledakan besar. "Ugh-" Aku memaksakan diri terbangun dan sekujur badanku terasa sakit. Kuangkat kedua telapak tanganku yang berbalut perban. "Jalanan-gue kecelakaan kah?" Kuperhatikan sekitar dan aku tak sengaja menoleh ke sisi kananku. Jantungku seperti berhenti berdegup ketika kusadari bahwa aku tak sendiri di atas tempat tidur-seorang bayi lelaki berbaring di sebelah dan menatapku dengan kedua matanya yang membulat sempurna.

More details
WpActionLinkContent Guidelines