I'm Nad
  • WpView
    Reads 774
  • WpVote
    Votes 212
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2020
Warning !!! Cerita ini dibuat, dibanting dan dilempar dari cerita nyata. Maka, jangan terlalu membaca dibawah alam khayal yang terdalam. *** Bercerita tentang gadis yang bernama Nad. Yang menyimpan sebuah rahasia besar dirinya. Pandai menjaga sampai akhirnya kiasan "Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga." Akhirnya terbukti untuk dirinya. Semua menjadi hancur, tentang hati gunung es yang dia sempat lelehkan dan akhirnya membeku kembali bahkan lebih beku dari sebelumnya membuatnya harus terjatuh untuk kedua kalinya. Semua orang didekatnya seakan menjauh. Merasa dia adalah penjahat, sementara bertahun-tahun dirinya harus menjaga semua itu. Tapi, satu yang dia tau pembacanya tidak akan meninggalkannya dalam keadaan terpuruk. Salam, Nad Oleh : Nad Jika api akan padam dengan air Dan angin terasa tanpa rupa Maka, raga mampu bekerja Walau tak setara dengan kuatnya hati Bila mereka terus berkompromi Tak masalah, jika ada yang harus di serahkan. *** Selamat membaca!
All Rights Reserved
#4
nad
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • DRABIA [END]
  • MY HEART IS HERS
  • GRIZLEN {On Going}
  • Semu [Completed]
  • Daniel Owns Me
  • Angsana Berbunga Untuk NATUSHA
  • Stolen Before Fallen
  • Let Me Love You Longer

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines