We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Tomorrow, today.

Tomorrow, today.

  • WpView
    Reads 567
  • WpVote
    Votes 46
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 30, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Terlalu banyak berujar hingga terbilang konyol oleh orang-orang... Terlalu sering bersedih dan merenung akan sesuatu sehingga disangka kesepian... Kisah hidup yang diharapkan berjalan setidaknya sedikit baik, nyatanya sangat berantakan hingga sulit tertata lagi... Rasa yang bercampur semakin hari semakin sulit dijabarkan atau dipikirkan kini putus asa adalah keadaan terakhir... Ini hanya kisah hidup seseorang yang mengalami fase pemberhentian, kata orang saat menemukan jawaban kau bisa melanjutkan perjalanan... Tapi sampai saat ini banyak sekali yang tetap di pemberhentian karena jawaban belum tentu jawaban... Hari ini, besok, lusa, hari yang terus-menerus berlalu itu hanya jadi kekosongan dan kehampaan semata... Pagi, siang, sore semua itu hanya malam penuh kegelapan dalam balik tangis diam... Ini hanya sekedar kata tersusun namun penuh akan perasaan dan bayangan terselip di antara kata jadi kalimat... Aku, saya, diri sendiri dan jiwa esok mungkin tiada bedanya namun ingin terus berjuang hingga waktu berakhir dengan kepercayaan selalu ada alasan dibalik suatu kejadian dan rasa sakit... . . . . . Untukku, untukmu, siapapun itu.. Mohon janganlah berhenti, teruslah berjalan dengan penuh air mata dan keringat menetes... Untuk suatu hari dimana malam-malam itu akan berakhir... _-Someday
All Rights Reserved
#8
tomorrow
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Haruskah Mati? √PART LENGKAP [TERBIT]
  • ALONE
  • Rintik Hujan
  • N O R A [on going]
  • SELAMA ITU KAH, APAKAH  KAU AKAN KEMBALI?
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Teruntuk kamu, Septemberku ♥

"Aku nggak mau ngerasain mentalku kembali hancur berantakan hingga rasanya hampir mati hanya karena cinta. Itu sebabnya, aku selalu takut untuk jatuh hati lagi." Ya, Ditha Aquila selalu takut kembali dibuat terluka sampai tak sadar bahwa ia sudah jadi sumber luka bagi Juna Pradirga. Lihatlah pada kebodohan yang ia buat. Takut ditinggal pergi, tetapi menomorsatukan ego dan gengsi. Ingin diyakinkan, tetapi tak pernah memberi kepercayaan. Mengharapkan yang serius, tetapi memutuskan hidup dalam hubungan tanpa status. Lebih dari ketakutannya untuk kembali dilukai, Ditha percaya bahwa orang yang mentalnya tidak stabil memang tak pantas untuk dicintai. Sebab, bagaimana caranya ia mencintai raga yang lain saat dirinya sendiri masih seringkali ia sakiti? Biar aku bertanya, apa yang akan kau putuskan jika seseorang datang pada saat luka masa lalumu belum sepenuhnya hilang? Memilih menerimanya? Atau justru, menolak kehadirannya dengan dalih sakit hatimu yang belum pulih? Keduanya sama-sama berisiko. Namun, kita selalu bisa memilih, risiko mana yang akan kita ambil. "Dan salah satu cara paling mudah untuk mencintai diri sendiri adalah dengan berhenti sejenak mencintai orang lain." PERINGATAN ⚠ Cerita ini bertemakan mental health. Pada beberapa part mengandung konten sensitif seperti adegan kekerasan fisik, self harm, hopeless, trust issues, dan suicidal thoughts. Publish : 1/09/2021 - 25/12/2021 Revisi [ New version ] : 19/02/2023 - Rank : #2 in puisi [04/10/22] #3 in quotes [30/11/23] #1 toxic relationship [31/07/22] #1 trustissue [28/08/22] #1 loveyourself [09/08/22]

More details
WpActionLinkContent Guidelines