Story cover for IMAJINATION by windi288
IMAJINATION
  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Mar 12, 2020
Rasa kagum pada seseorang yang belum pernah dia bertemu. Tapi anehnya, namanya dia pinjam didalam doa setelah sholat sepertiga malamnya.

Dia berdoa dengan harapan dapat bertemu, berkenalan, berteman dan terakhir bersatu dengan ikatan yang suci.
Bukan kah itu sangat mustahil?
Tidak ada yang mustahil ketika Allah menghendaki.

Bukankah Allah maha membolak balikkan takdir hamba-Nya.

-Zahira Khoirunnisa-
All Rights Reserved
Sign up to add IMAJINATION to your library and receive updates
or
#41remajaislam
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
Di Sepertiga Malamku cover
Doa yang tak terucap cover
Past & Future cover
Imam Untuk Raina (Selesai) cover
Arta & Azkia cover
Rose's cover
Goresan Takdir cover
Satu Hati Dua Keyakinan  cover
Cinta Tak Terduga  cover

Di Sepertiga Malamku

42 parts Ongoing

UTAMAKAN VOTE!! baca dari prolog, jangan di skip yaa!! Di saat dunia terlelap, ada hati yang tetap terjaga. Bukan karena insomnia, tapi karena rindu yang hanya bisa disampaikan lewat doa. "Di Sepertiga Malamku" mengisahkan tentang Adiva, seorang santri perempuan yang menyimpan rasa cinta dalam diam. Cintanya bukan cinta biasa ia tak pernah berani menyentuh, hanya menitipkan lewat sujud dan air mata. Rayyan, lelaki yang menjadi arah rindunya, hadir seperti mimpi yang terlalu indah untuk nyata. Dalam hening malam, dalam setiap istikharah dan sujud panjang, Adiva belajar bahwa mencintai bukan soal memiliki tapi soal merelakan, dan percaya pada takdir nya. "Aku akan selalu menyebut namamu di dalam doaku dan di waktu sepertiga malamku." ~ Adiva Nazia "Ya Allah, jika dia memang takdirku, dekatkanlah hatinya kepadaku dengan cara mu yang paling indah." ~ Muhammad Rayyan Al Izyan Apakah doa yang dipanjatkan dalam diam bisa mengetuk takdir yang telah digariskan? Atau mereka hanya ditakdirkan untuk saling mendoakan, bukan untuk saling memiliki?