Monokrom

Monokrom

  • WpView
    Reads 75
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 27, 2020
"terimakasih untuk hitam dan putih dalam serat hidup sebaya yang kini kutempuh, memilih henti untuk membuka hati yang telah lumpuh" - detak prawijisana Mari singgah untuk sungguh, menepi radian penuh peluh. sejenak terasa menikmati goresan penuh makna. detak yang tak lagi dirasa sempurna. ruam dalam jiwa penuh luka. jejak kelabu terhias hitungan waktu. mananya entah apa dirasa. perih , pahit getir kehidupan yang dilaju. mengikuti alur sang maha kuasa. Gundah yang dilingkup dalam syair sejuk. hitam dan putih nya kehidupan di kala masa lalu yang begitu meresahkan. Bayangan maya tampak jelas tanpa memudar, perihal luka yang masih belum sepenuhnya kering terkelupas kembali. Masa lalu bukan biar untuk berlalu, jika tanaman cinta menuai luka yang mana sampai kedepannya kembali menganga. Jelas saja bila dapat diminta, memilih untuk tak bertemu sebelumnya.
All Rights Reserved
#988
poem
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • eudaimonia
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Semua Memukul (✅)
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • My Wish
  • Rembulan Yang Sirna

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines