Intuisi Tentang Rasa

Intuisi Tentang Rasa

  • WpView
    Reads 548
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadComplete Wed, May 20, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Semenjak berakhir, semua terasa beda dilalui bukannya tidak bisa melewati hari tanpamu hanya saja ada suatu kehilangan yang kurasa kurang lengkap akhirnya. *** Tahun demi tahun membuatku semakin sadis jika berbicara soal perasaan, hati, dan cinta. Sadisku telah membuat beberapa orang tersakiti adalah orang yang ingin mendekatiku, orang yang menyatakan perasaan kepadaku. Aku merasa mereka semua gila, tidak tau apa alasannya tapi itu yang berbicara di hati kecilku. Terlewati panjang kesendirian ini tanpa Raja hatiku, hingga setiap mendung mendatangi sepiku semakin terasa sudah kehilangan itu dengan aku yang berbicara melalui rasaku. Banyak metode perihal rasa yang telah kusampaikan, ialah diary. Ya memang semua orang tidak pernah menyangka aku memegang diary, tapi realitanya itu aku. Mengapa? Karena diary yang dapat aku percaya, yang bisa memegang cerita tanpa menceritakan kesiapapun. Semuanya itu tentang perasaanku, keganduhanku, kegelisahanku, kecamukkanku perihal hati. Namun pada esok hari Sang Raja membuatku patah secara perlahan dan diam-diam membuatku jatuh lagi. Aku merasa tidak ada gunanya Diary itu, lalu aku memutuskan untuk membakarnya. Oke selesai? belumm haha, aku tuliskan lagi di paper kecil setiap hari tentang rasa sakitku namun kali ini setiap paper yang selesai kutulis langsung aku buang. Kenapa? karena aku pikir setelah membuangnya itu, perasaan yang aku rasakan ikut terbuang tetapi sayangnya tidak, malah semakin menimbun tinggi. Seperti harapan? tidak, aku tidak berharap, aku mengontrol harapan ini agar tidak terlalu tinggi. ------ Yang terpenting bagiku bagaimana aku bisa menceritakan salama ini yang aku rasakan. Mungkin itu akan lebih baik, karena aku selalu memendam sendiri, sahabatku sekalipun tidak pernah tau isi hatiku sebenarnya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menuangkan segalanya melalui Wattpad ini.
All Rights Reserved
#888
sendu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Admire Or Love
  • LOVE in SILENCE
  • Coming Home (CABACA.ID)
  • REGATHAN [END]
  • Cerita Rein (SUDAH TERBIT)
  • My Duchess / End
  • You are in my past and my future [END]
  • Full Of Scratches

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines