KONSPIRASI RASA

KONSPIRASI RASA

  • WpView
    Reads 813
  • WpVote
    Votes 213
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 14, 2020
Tak tahu bagaimana bisa ia datang diam-diam dalam duniaku. Yang kutahu, ada yang mengetuk, tapi ketika kubuka, tidak ada siapa-siapa. Entahlah bagaimana bisa ia menaruh hatinya di hatiku. Yang kuingat, ada yang diam-diam muncul, tapi ketika kuperiksa, aku yakin tidak ada. Daripada itu semua, yang lebih kupikirkan adalah bagaimana bisa muncul sebuah pilihan saat aku sendiri tidak tahu pilihan apa yang menungguku di sana. Dan, aku tidak bisa memilih. Ruang pribadiku nyaris berserakan harapan. Kemudian, kudapati Hari dimana waktu tak lagi nyaman berputar, senja yang indah pun sudah nampak usang. Aku bertanya pada hati; "Ada apa?" Lalu ia menjawab; "Sesuatu telah pergi dan akan pergi."
All Rights Reserved
#295
biru
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Antara Langit Dan Perasaan
  • Langitera
  • Aku,kamu dan Harapan yang tertinggal
  • I [Never] Give Up On You a.k.a Jarak Antarbintang - [Telah Terbit]
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • Betadine
  • DALAM DIAM ADA RASA
  • DAISY
  • Kutinggalkan dia karena Dia
  • Langit Biru [END]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines