We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Dekat
  • WpView
    Reads 3,099
  • WpVote
    Votes 269
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadComplete Mon, Mar 7, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Fathiyah perempuan 21 tahun biasa. Sehari-hari kuliah dan cuma bisa cerita dari hati ke hati dengan beberapa teman dekat. Dia pikir, karena hidup hanya sekali, tentu saja hidupnya harus baik-baik saja. Mas Aziz laki-laki 26 tahun biasa. Tingkahnya santun dan pekerja keras. Sehari-hari hanya disibukkan dengan pekerjaan. Dia pikir hidup harus sederhana, jangan banyak tingkah. Dari kaca mata manusia normal manapun, mereka serasi sekali. Tapi apa iya?
All Rights Reserved
#274
marriagelife
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BUKAN PILIHAN KU
  • PERTARUNGAN CINTA (Fatqeel)
  • A Symbiotic
  • The Story of  Aisha Khumairah
  • Benthala Gharam
  • DIDEKAP KALA ITU (TAMAT)
  • ADA PELANGI DI UJUNG WAKTU
  • Dibalik Qalbu

Cinta tak selalu dimenangkan oleh mereka yang saling mencintai tapi cinta itu tentang bagaimana cara kita ikhlas. Di balik cadarnya, Aisyah Humeyrah menyimpan luka yang tak terlihat-dijodohkan dengan pria dari mazhab berbeda, hidup dalam rumah yang sepi meski ada dua orang di dalamnya. Ia masih belum lulus dari pondok, tapi sudah harus menunaikan bakti sebagai istri. Sementara itu, Imam-pemuda yang mencintainya dalam diam-hanya mampu mencintai dari kejauhan, dengan doa yang tak pernah putus. Pernikahan yang awalnya tampak tenang berubah menjadi luka-luka kecil yang terus ditelan Aisyah dalam diam. Mas Hadi, suaminya, semakin sibuk dengan dunia sendiri, memperlakukannya seolah tak lebih dari pelengkap rumah. Di tengah keterasingan itu, Aisyah tetap mengajar, tetap belajar, dan tetap sabar. Tapi sampai kapan kesabaran bertahan jika cinta hanya berjalan satu arah? Ini adalah kisah dua insan yang terpisah oleh takdir, mazhab, dan dinding rumah yang tak memantulkan cinta. Tapi di antara sabar dan ikhlas, mereka belajar satu hal: bahwa mencintai bukan selalu memiliki, tapi mendoakan dalam senyap, hingga langit sendiri yang menjawab.

More details
WpActionLinkContent Guidelines