HOPELESS: The New Dawn

HOPELESS: The New Dawn

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 8, 2020
Tahun 2200 Masehi tepat pada malam pergantian tahun. Sebuah cahaya kuning bersinar. Seolah jatuh langsung dari langit dan menimpa bumi. Perbedaan warna antara malam dan cahaya ini sangatlah serasi. Ditambah lagi dengan kembang api yang mulai dinyalakan kian mewarnai malam itu. Menghadirkan suatu pemandangan yang begitu indahnya, yang tak akan mungkin dapat dilupakan oleh siapapun. Semua orang yang melihatnya bertepuk tangan tekagum-kagum. Terpana akan keindahan malam itu. Semua mata menuju ke arah cahaya itu. Mereka tertawa dengan riangnya, bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi. Namun, tak lama berselang satu per satu dari orang-orang itu ambruk. Mulut mereka yang jatuh itu kini terbuka lebar. Mereka nampak ingin berteriak kesakitan. Namun tak ada suara apapun yang mampu keluar dari mulut malangnya. Disamping mereka ada juga yang hanya dapat menyaksikan dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Beberapa mencoba untuk menolong. Yang lain menangis histeris. Ada juga yang pasrah. Satu hal yang jelas. Mereka tak mampu menolong orang-orang itu. Mereka yang ambruk kini telah meninggal. Mereka mati dengan tragis. Mulut mereka terbuka lebar. Dan otot mereka nampak menghilang dari tubuhnya. Menyisakan tulang dan kulit di mayat-mayat itu. Raut wajah mereka sangatlah mengerikan, seolah-olah ingin memberitahukan betapa sakitnya apa yang telah dilalui oleh tubuh mereka. Isak tangis pecah dari orang-orang yang masih hidup. Mereka tak menyangka bahwa malam yang bahagia akan berakhir semengerikan ini. Mereka semua tak mampu menahan emosinya dan perasaan kebingungannya. Setelah beberapa waktu berselang mereka tersadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak ada gunanya. Orang-orang yang selamat itu perlahan berdiri dan mengangkat kepala mereka. Mereka menatap antara satu dengan lain. Yah, mereka tersadar. Bahwa semua orang yang selamat adalah remaja. Dan tak ada orang dewasa yang tersisa. Selamat datang di dunia baru. Jiwa-jiwa yang menyedihkan....
All Rights Reserved
#59
shonen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • Axevelia is Devil
  • Lihat Aja Langit (Batch 1)
  • Senandung Kematian [Selesai]
  • Drowning
  • Indigo vs Psikopat 🔞 ✔ [Sudah Terbit]
  • Kalau Aku Bukan Lagi Temanmu, Siapa Aku?
  • Berikan Aku Rumah [Revisi Alur]

🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2022 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT

More details
WpActionLinkContent Guidelines