We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Wang So & Hae So ending ep 9 Moonlovers

Wang So & Hae So ending ep 9 Moonlovers

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 21, 2020
WpInfo
Non-Fiction
kata-kata yang bikin aku sedih dan nggak bisa melupakan *Tetaplah bersamaku* . *Aku ingin istirahat* . Aku tidak mau! Aku takut padamu, yang mulia. *Tapi kau pernah bilang kau tidak takut padaku.* kupikir aku bisa mengubah semuanya. Tapi, aku salah. Kau akan menghancurkan semuanya! Pergilah. Jauhilah aku! *Jangan kau juga! Jangan menghindariku, jangan menyuruhku pergi. Jangan bilang aku membawa kesialan dan jangan bilang aku juga binatang.* *Setidaknya, kau tidak bisa melakukan itu padaku. Kau itu.... Orangku.* Aku bukan orangmu, yang mulia. *Kau adalah orangku. Kau milikku. Kau kepunyaanku! Tanpa izinku, kau tidak boleh meninggalkanku. Kau juga tidak boleh mati. Kau sepenuhnya adalah orangku.* #ep9Ending
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Thank You ( Kim Taehyung ).
  • ENDLESS SUFFERING [•Halilintar•] Empire Era
  • HE IS MY MINE!
  • 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 [✓]
  • PRINCE PSYCHO | NA JAEMIN ✅
  • She Is Mine ! (EXO Oh Sehun)
  • Rahasia Boboiboy Gempa
  • The Time That I Loved You -> K.J.I

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines