Pergilah Temui Dirinya

Pergilah Temui Dirinya

  • WpView
    Reads 163
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 28, 2020
" Pergilah dari tempat ini. kau harus temukan dirimu di luar sana" " Pergilah dari tempat ini. Saatnya kau mencari tujuan hidupmu" "Pergilah dari tempat ini. Jangan kau tambat perahumu ! ini bukan tempatmu! dunia ini luas! Ada dermaga mewah telah menantimu." Pergi? Kemana aku harus pergi? Bahkan untuk mencari jalan pun ... aku sangat sulit, aku tidak tau jalannya. Tolonglah! .... Papa benar, aku ini hanya pria lemah. Sehebat apapun aku bertarung ... Aku tetap lemah. Sehebat apapun aku memainkan senjata... Aku tetap lemah. Bahkan diusiaku sekarang aku tetap belum mengenal diriku sebenarnya .... dan aku benci mereka! Mengapa mereka hadir di kehidupanku? Sosok2 berpakaian panjang, mereka bilang, agama mereka suci? Jangan harap! Bagiku mereka saja bejat! .... Coba kau ulangi? Apa agamamu?Islam? Aku membenci mereka!sangat benci! Aku tak ingin mengulang kejadian itu lagi! Tapi, kebencian itu mereda saat kulihat dirinya, wanita berkerudung putih yang tak kukenali. Wanita yang beragama islam, hatinya yang lembut itu. kenapa hatiku malah tertarik? Bukannya aku membencinya? .......
All Rights Reserved
#37
pergi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  •  regret a mistake🍁( ENDING)
  • Luka Yang Kurindu [mewgulf]
  • Alice & Adrian
  • Dusk In Your Eyes
  • Falling [SEDANG REVISI]
  • Sebelum Luka
  • Sebatas Mimpi
  • SELESAI (Say Goodbye)
  • ALVIN (On Going)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines