Kasandra Dewi, adalah perempuan yang sejak lama mengeram dalam rumah. Namun, disaat umurnya yang sudah memasuki kelas 2 SMA, Kasandra Dewi, yang sering disapa dengan Sandra, memberanikan Diri untuk keluar rumah.
Alasan Sandra mengeram didalam rumah sebenarnya simpel.
Dirinya takut akan dunia luar yang liar, menakutkan, dan penuh teka teki hidup. Namun, Sandra sadar selama dirinya mengeram didalam rumah hanya membuahkan hasil yang sia sia.
Toh jika dirinya sudah tumbuh dewasa, pastinya dirinya akan berkecamuk pada dunia pekerjaan. Dunia luar.
Hanya satu yang Sandra harapkan, selama dirinya berada di Dunia luar. Semoga dirinya tidak akan berurusan dengan masa lalunya.
Masa lalu yang membuat dirinya bertahun tahun takut untuk berkomunikasi dengan orang lain dan dirinya yang mengeram didalam rumah.
Namun, disaat dirinya bertemu dengan Rafian Saputra Julian, yang sering disapa Rafi. Adalah sosok lelaki yang berwarna kulit putih, hidung mancung, tinggi badan yang sedang, dan yang terutama adalah dirinya adalah sang anak sulung dari pemilik sekolah, yang pastinya keluarganya dapat dikatagorikan keluarga sangat mampu.
Rafi sukses membuat sandra merasakan rasa indah dalam berasmara, layaknya remaja remaja perempuan SMA pada umumnya.
Rafi juga sukses membuat Sandra merasakan hal baru yang dia temui dalam dunia luar.
Dan Rafi juga sukses menemukan dirinya pada orang masa lalunya.
Dan disaat itulah Sandra, yang baru menemukan sisi baik dengan dunia luar, disaat itu juga dirinya merasa terpuruk kembali.
Rasa takut, cemas, khawatir akan kehilangan sosok yang disayanginya kembali.
"Jangan pura pura kuat Sandra. Kalo emang itu udah buat kamu luka, yaa menjauh. Nangis bukan berarti kamu lemah dan menjauh bukan berarti kamu pengecut. Semua itu dilakukan pasti ada alasannya."
Akankah Sandra terus bertahan dengan resiko yang mungkin dapat membuatnya menyesal?
Atau Sandra memilih untuk tidak egois, menyerah. Demi orang orang yang dia sayangi?
Seumur hidupnya, Adrian hanya menjadi bayangan di keluarganya sendiri. Hingga suatu malam, satu kalimat menghancurkan segalanya. Ia pergi tanpa menoleh-tanpa rencana, tanpa tujuan. Tapi bisakah bayangan benar-benar menemukan cahayanya sendiri?