Norak Queen VS Cold Boy

Norak Queen VS Cold Boy

  • WpView
    LECTURES 512
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., mars 18, 2021
Bagaimana jadinya jika seorang cowok dingin dipertemukan dengan cewek norak yang banyak tingkah. Sang cewek, remaja berusia 17 tahun dan berhijab yang memiliki postur tubuh cukup ideal dengan tinggi 165 cm, memiliki warna kulit cukup putih dan juga memiliki otak cerdas. Sikapnya yang selalu ceria, heboh sendiri dengan tingkat keingintahuan(kepo) yang sudah kronis, menjadikannya remaja yang sulit ditebak. Menjadi siswi pindahan dari sekolah asal yang jauh dari sekolah tempatnya pindah, menjadi tantangan tersendiri baginya. Apakah dengan pindah bisa menyelesaikan masalah yang ada atau malah menambah dengan terciptanya masalah baru. Sedangkan cowok, remaja 17 tahun yang berpostur tubuh ideal dengan tinggi 185 cm, berkulit putih dan memiliki hidung mancung. Sifatnya selalu dingin dan banyak diam, karena ia suka ketenangan.Tetapi, jauh di dalamnya tersimpan kepedulian yang besar untuk orang-orang yang penting dalam hidupnya. Namun, semua ketenangan yang ia dapatkan mendadak hilang dengan kehadiran siswi baru di sekolahnya. Apakah akhir kisah mereka akan bahagia atau menjadi akhir yang menyedihkan? Who knows? _________________________________________
Tous Droits Réservés
#105
leon
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Beautiful Girl [END]
  • A Reader Who Wants A Happy Ending
  • Arunika
  • The enemy is my love
  • Fiana Or Riana [ END ]
  • Dih-, (COMPLETED✔)
  • ANAK SEKOLAH [ COMPLETE ]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu