Misunderstanding

Misunderstanding

  • WpView
    Reads 5,852
  • WpVote
    Votes 255
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Aug 23, 2021
Tubuh Irina terpental hingga ke tembok basement karena Rayen menyentaknya dengan keras dan memegang bahu Irina hingga menempel tembok. "Why?" "..." Irina hanya menatap wajah Rayen dengan bingung. "Kenapa kamu pergi saat aku membicarakan masalalu?" "Karena memang saya harus ke toilet. Dan kenapa anda perduli, saya mendengar atau tidak?" "Jangan pernah berbicara formal saat kita sedang berdua. Aku muak." "Maaf, tapi sekarang anda adalah klien saya." Irina tak ingin mengalah kali ini. "Oh, ya aku adalah klien kamu hari ini kan." Entah apa yang harus dilakukan Irina saat mata Rayen terlihat memerah dan penuh emosi, tapi Irina tidak mau mengalah dengan pria egois dan paling dia benci ini hingga tanpa Irina duga Rayen mendekatkan wajahnya dan tanpa berfikir lagi Irina segera melangkahkan kakinya untuk menghindar. Terlambat. Rayen menarik tangan Irina hingga punggung Irina menempel di tembok lagi dan menyurukan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan kasar dan melumat bibir Irina. Sesaat, Irina terbuai dengan lumatan kasar namun menggoda dari Rayen sebelum kesadarannya kembali dan Irina meronta berusaha melepas cengkraman Rayen hingga tangannya terbebas dan... PLAKKK
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • ONLY YOU
  • WHY
  • Lalita My Love(Selesai)
  • Alpha's Guardian Angel | SQHY
  • Obsess with you_(Greshan)[END]
  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • my perfect revenge (End)
  • "LOVE AGAIN"

"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines