We Used To Be A Family

We Used To Be A Family

  • WpView
    Reads 94,806
  • WpVote
    Votes 16,347
  • WpPart
    Parts 62
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 27, 2021
[ • read at your own risk • ] [Harap follow terlebih dahulu sebelum membaca.] 🦋 c o m p l e t e d 🦋 trigger warning; mental issue suicide toxic self injury murder ❞ What's your favorite candy? ❞ ❞ Paxil. ❞ ✧༝┉┉┉┉┉˚*❋ ❋ ❋*˚┉┉┉┉┉༝✧ Deru napasnya mengembunkan rahasia yang memantulkan sembilu. Perjalanan kisahnya menghabiskan air mata yang tak tersisa, dengan harapan sang Ayah memudar terkikis oleh realita pahit yang dikecap setiap detik. Hingga akhirnya, langit meredup karena mentari menghilang. Dan di hari itu, terdengar raungan jiwa putus asa meminta keajaiban pada semesta, dengan air mata berpulang menuju waktu dan rindu pada keluarga yang dikepung penyesalan. Ini untuk keluarganya, yang terpisahkan oleh ego tak bertepi. Copyright © 2020, by Marie Victoria (bananarie) [ Fanfiction ]
All Rights Reserved
#125
diterbitinclover
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • AYARA [END]
  • Hari Ini untuk Esok
  • ✔ Scheduled Suicide Days | salicelee.
  • Esya {TERBIT}
  • Tale Of Us
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines