Back into you

Back into you

  • WpView
    Reads 1,151
  • WpVote
    Votes 290
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 12, 2020
"A-apa yang lo lakuin, Ren?" ucap Gea gemetar ketakutan melihat Naren mendekatinya, seringaian tercetak jelas di wajahnya. "Menurut kamu?" Naren bertanya dengan suara yang sengaja di lembut lembutkan. "Brengsek. Apa mau lo sebenarnya?" teriak Gea ketika mengetahui apa yang ada di pikiran Naren. Gadis itu semakin ketakutan saat jaraknya dengan Naren semakin mendekat. "Sekali lagi gue tanya. Jadi pacar gue atau..." "Nggak. Gue nggak mau," Gea terus saja membantah Membuat Naren menggeram marah. "Oke. Gue akan buat lo jadi milik gue dan nggak akan pernah bisa lari dari gue," ujar Naren. "Brengsek.." *** Warning! Cerita ini banyak memakai kekerasan dan kata kata kasar. Vote dan komen sebagai tanda menghargai.
All Rights Reserved
#10
live
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Kelas A [End]
  • Strong Girl Michella (END)
  • It HURTS
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • sorry (COMPLETE✔✔)
  • Behind Bullying [END]
  • ELGITA  (TERBIT)
  • Rapuh Lalu Retak (RLR)
  • RadenRatih

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines