Realistic Girl

Realistic Girl

  • WpView
    LECTURES 83
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., oct. 14, 2020
Dalam hidupnya, Claudia hanya mempunyai satu tujuan yaitu menghasilkan banyak uang. Dia membutuhkan uang untuk hidup. Tetapi, dia hidup bukan untuk uang melainkan untuk menghidupi adik-adiknya yang bahkan bukan adik kandungnya sendiri. Apapun akan Claudia lakukan untuk bisa menghasilkan banyak uang. Tetapi, tujuan itu tak pernah terwujud karena tak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan banyak uang untuk Claudia yang masih seorang pelajar di SMA. Perasaan Claudia sudah mati, dia bahkan tak bisa merasakan perasaan apapun sejak dia kecil. Senang, sedih, marah, kecewa dan emosi lainnya tak pernah Claudia rasakan atau pun ekspresikan. Wajahnya selalu tanpa emosi satupun. Ketika Claudia sangat membutuhkan uang, ada seorang pria yang tiba-tiba mengungkapkan perasaannya dan menginginkan Claudia menjadi kekasihnya. Jawaban yang tak disangka-sangka diucapkan oleh Claudia. "Memangnya, apa yang gue dapatkan kalau gue jadi pacar lo?" (Claudia)
Tous Droits Réservés
#89
uang
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Petrichor
  • Different Page [Complete]
  • BLOOMING [END]
  • hay mantan !!
  • 7 Seconds
  • Claudya
  • Strawberry
  • Trapped with the devil (end)
Petrichor

Uang adalah sumber kebahagiaan, uang adalah segalanya. Bulshitt!! Aku tidak pernah meminta kedua orang tuaku untuk bekerja segila ini untuk bisa mewujudkan semua keinginanku. Cukup mereka selalu ada di sisiku saja itu sudah membuatku senang. Munafik jika aku tidak memerlukan uang mereka. Tapi bukan begini caranya. Apakah mereka lupa bahwa ada aku yang selalu menunggu mereka menghabiskan waktu bersamaku? Bahkan, pembantu di rumahku lebih cocok di panggil sebagai orang tua. Disaat orang lain menghabiskan hari liburnya dengan orang tua mereka, aku hanya bisa menampilkan senyum getir tanpa bisa merasakan kesenangan itu. Ini hanyalah wish yang sangat mudah untuk di wujudkan. Akan tetapi mengapa terasa sangat sulit bagi mereka untuk bisa mengabulkannya. Sikap mereka yang seperti itu tak ayal membuatku menjauhi mereka. Sebisa mungkin, tidak berinteraksi pada keduanya. Mungkin dengan cara ini mereka bisa mengerti. Berbagi cerita pada Bunda, di ratu kan oleh Ayah, menghabiskan waktu bersama keduanya. Aku harap semuanya akan terwujud. Teman, kekasih dan lainnya, bahkan belum bisa membantuku menutupi semua luka ini. Hingga..... Kejadian itu membuatku kembali merasakan apa itu sakit dan kehilangan. Benar, yang bisa membuatku tenang hanya..... Petrichor.... . . . . . Warning!!! Cerita ini murni atas pemikiran saya sendiri tanpa ada copy dari cerita lain. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau lainnya. Harap untuk tidak plagiat cerita ini.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu