STRUGGLE AT MA'HAD

STRUGGLE AT MA'HAD

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Thu, Mar 26, 2020
- "Adnin nanti,kamu, lala, laras, jadi perwakilan pondok buat jadi da'iah ke amsterdam ya" ucap ustadz adam "Amsterdam ustadz?!, beneran ustadz?!" "Iya, tolong sampein, ke lala sama laras ya nin". "Siap! Ustadz" Akhirnya, aku, lala dan laras akan segera meluncur ke negera belanda untuk menjadi pendakwah sebagai perwakilan pondok
All Rights Reserved
#720
pondok
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memeluk Sajadah
  • MENDUNG
  • Aku Mencintaimu Karena Allah [End]
  • the best choice
  • GATA
  • cinta yang terlambat
  • Because 51:49
  •  Perjuangan Seorang Santri(Masih Dalam Revisi)
  • HALO,DEK!
  • ALLAH GUIDE ME (TAMAT)

Hujan turun perlahan membasahi halaman pesantren kala itu. Safana berjalan cepat dengan mata memerah menahan amarah dan malu yang bercampur menjadi satu. Tangannya gemetar merapikan hijabnya yang sempat tersingkap tanpa sengaja. Ia berhenti tepat di depan Ustad Azam. Lelaki itu terlihat terkejut melihat tatapan penuh kecewa. "Ustad orang pertama yang lihat aurat saya..." suara Safana bergetar, menahan tangis yang sejak tadi sesak di dadanya. "Maka itu nikahi saya." Suasana mendadak sunyi. Bahkan suara hujan seakan ikut berhenti mendengar kalimat itu. Safana menunduk dalam, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena ia mencintai Azam, tetapi karena harga dirinya terasa runtuh saat aurat yang begitu ia jaga justru terlihat oleh seorang lelaki. Azam memejamkan mata sejenak. Rasa bersalah menghantam dadanya. Semua terjadi tanpa sengaja, namun ia tahu luka di hati Safana tidak sesederhana kata maaf. "Bismillah... insyaAllah saya siap menikahimu," ucap Azam pelan namun tegas. Safana terdiam. Dadanya semakin sesak. Entah kenapa jawaban itu justru membuat hidupnya berubah kala itu. Karena sejak kalimat tersebut terucap, bukan hanya tentang pernikahan yang menanti mereka... tetapi juga rahasia, fitnah, dan hati yang perlahan mulai saling jatuh cinta

More details
WpActionLinkContent Guidelines