Judul Standar - MEMORIES

Judul Standar - MEMORIES

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 29, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Apalagi yang perlu dibahas? Kita Hanya sekedar masalalu. Sejak peran ku dalam hidup mu seenak nya kau ganti dengan nya. Aku memilih tidak mengingat apapun tentang mu." ucap hanin Tajam. "Saat itu kesetiaan ku kalah dengan nafsu, Beri aku celah untuk kembali. Aku tidak mau siapapun melupakan ku, Apalagi kamu." Adit memelas, matanya menunjukan sejuta harapan. . . :*
Public Domain
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • I Hope...
  • Maafkan Aku
  • Cinta Dua Waktu
  • ALGARES [Hiatus]
  • complicated feeling | ✓
  • Friendship Goals
  • Luka dan Malam [END]

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines