ERASE : Ketika cinta itu luka

ERASE : Ketika cinta itu luka

  • WpView
    Reads 290
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 8, 2020
Ketika hati dipaksa untuk merasakan luka. Ketika ketulusan terus diremas dengan kebencian, sayatan perih ditaburi garam. Sekuat apa aku bisa bertahan ? sedang aku hanya wanita dengan cinta tanpa balasan. *** "Pa,ma aku hanya merebut kekasih dari anak kalian . . !" lanjutnya dengan melempar tatapan kepada sepasang paruh baya yang menatapnya datar,tanpa perasaan. Padahal mereka adalah orang tua yang teramat dikasihnya "kak, aku hanya merebut kekasi dari adikmu . . ! " dengan suara tercekat dia menambahkan. "aku hanya merebutmu dari adikku segara . . !" katanya teramat lirih ,pandangannya menatap nanar pada Pria yang tengah berdiri disisi wanita yang dicintainya. Genangan air dimatanya perlahan luluh,membanjiri wajahnya. Pandanganya mengabur,sekuat tenaga menahan gejolak duka yang tengah menggedor hatinya. Kepala yang sempat menunduk kini menengadah,menatap satu persatu orang yang termatat dia kasihi. "hanya satu kesalahan,tapi kalian menghukumku teramat sangat . . ." lirihnya namun masih mampu terdengar oleh mereka yang tengah menatapnya. Dengan sekuat tenaga,Sea Mutiara membawa kursi rodanya mendekat kearah mereka. Dengan perlahan, dia meletakkan dua benda yang sedari tadi ada dipangkuanya. Semua mata mengarah pada apa yang tergelat di meja. Dua amplop berwarna coklat. "Semoga dengan apa yang terjadi ,dengan apa yang menimpa saya. Itu cukup untuk kalian menghilangkan segala dendam dan kebencian terhadap saya" katanya tergugu "kelak ketika kita bertemu dengan tidak sengaja,semoga kalian bisa mengabaikan saya dan saya sangat ikhlas jika kalian menanggap saya orang asing dan itu juga adalah harapan saya" Dengan hati remuk,dengan tubuh bergetar menahan tangisnya Sea Mutiara menggerakkan kursi roda dengan sekuat tenaga meninggalkan mereka. Keluarga,dan orang orang yang dikasihnya namun teramat membencinya.
All Rights Reserved
#168
duka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secarik Kertas Pengantar Tidur
  • Bertaut Rasa (Gratis)
  • Amor Almira
  • Emotion Love
  • Your Fiancee My Destiny
  • syanin
  • Together, Against all Odds (T.A.A.O) (LENGKAP)
  • I'm Sorry (Done)
  • Unpredictable Love

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.

More details
WpActionLinkContent Guidelines